Sejak
wisudanya dari Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia beberapa tahun lalu, Tiara Payumi menjadi seorang yang sangat
disegani didesanya (Desa Gunung Putri, Tasikamalaya). Begitu pula dengan kedua
orang tuanya, menjadi orang yang sangat dihormati didesa tersebut. Bagaimana tidak,
ayah putri yang mulanya hanya seorang buruh di penggilingan padi serta ibunya
yang hanya seorang buruh cuci kini hidupnya jauh lebih makmur bahkan bisa
dibilang cukup kaya didesa tersebut. Maklum saja ‘Umi’, begitulah warga desa
menyebut nama Tiara Payumi. Kini bekerja dirumah sakit swasta di daerah kota
dengan gaji yang cukup besar. Selain itu, Umi juga membuka praktik didaerah
Kawalu. Setiap sore kliniknya ramai,Umi disenangi oleh pasien-pasiennya karena
keramahan dan kelembutan tutur katanya. Selain itu juga karena klinik Umi
memang yang paling mudah dijangkau dari daerah pedesaan, tidak harus ke daerah
kota, cukup dikecamatan.
Kesuksesan
yang kini Umi genggam melalui proses
panjang dan tentu tak mudah. Sejak sekolah dasar Umi harus mengantar dan
menjemput cucian dari warga yang memakai jasa cuci ibunya. Bahkan saat SMP
sampai SMA Umi harus mencari uang sendiri guna membayar uang SPP sekolahnya.
Setiap pagi, sekitar pukul 03.00 dini hari Umi pergi ke pasar dengan menumpang
mobil angkutan kelapa dan beras. Ia ke pasar untuk berjualan unyil (kantong
plastik). Kendati demikian Umi tetap menjadi siswi berprestasi disekolahnya.
Sampai saat lulus SMA ia mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Universitas
Indonesia dengan beasiswa perluasan pendidikan dari pemerintah daerah kota
Tasikmalaya. Kerasnya hidup menempa Umi menjadi sosok mandiri, pekerja keras,
kuat, dan teguh pendirian.
Semua
terbukti. Kehidupan Umi dan keluarganya kini telah banyak berubah. Lebih
bahagia, lebih makmur, lebih kaya dan terhormat tentunya. Tidak dipandang
sebelah mata lagi oleh para tetangga dan warga desa. Umi tidak lagi harus
menerima pelecehan dari pak Harto, lelaki tua yang selalu memaksa orang tua Umi
untuk menikahkan putri semata wayang mereka dengan pria mata keranjang yang telah renta termakan
usia itu.
Umi
kembang desa yang cantik dan kini sukses. Hidupnya begitu luar biasa,
setidaknya itu yang orang-orang katakan. Sungguh sempurna hidup seorang Tiara
Payumi. Berputar seratus delapan puluh derajat. Ya, itu semua pandangan orang.
Tetapi tidak dengan Umi. Ia mungkin bahagia dengan hidupnya sekarang. Orang tua
yang bahagia akan kesuksesannya, rumah kepunyaan sendiri tidak lagi menumpang
rumah kosong milik tetangga, uang ia punya, kerja dan penghasilan pun cukup
menjanjikan, wajah cantik mempesona, hampir semua ia punya.
Tanpa
ada yang tahu ternyata ada sejuta resah dalam hati seorang Umi yang memiliki
‘hidup sempurna’ itu. Setiap detik ada yang ia rasakan selalu hilang dalam
dirinya. Senyumnya yang cantik menawan itu ibarat hunusan pedang pada
jantungnya. Semakin indah senyumnya semakin sakit dan besar lukanya. Tutur
katanya yang lembut itu, ibarat busur panah yang pasti terarah menuju muara
hatinya. Setiap kata yang terucap dari mulutnya semakin menambah perih lukanya.
Umi ibarat tengah bermain sandiwara. Dan aktingnya sangatlah luar biasa. Semua
sandiwaranya tampak nyata namun sesungguhnya semua hanya bualan. Kebohongan
semata. Siapa yang akan menyangka.
Ada
yang telah hilang dari jiwa wanita paruh baya itu. Permata pada jiwanya telah
hilang. Permata jiwa itu bernama cinta. Permata yang dalam buku - buku sastra
mengubah dunia menjadi begitu mempesona, menjadikan setiap hela nafas begitu
berharga, setiap detiknya begitu penuh makna. Setiap goresan kisahnya penuh
warna ibarat pelangi, nikmatnya penuh rasa, terkadang manis dengan sedikit
canda, pahit dan menangis dengan pertikaian – pertikaian kecil. Atau terkadang
hambar dengan hanya diam sejuta bahasa.
Cinta
Umi telah mati, lenyap bersama wisudanya dari Unversitas Indonesia. Cintanya
telah hilang, pergi bersama makhluk bernama Irfan Syahreza. Orang yang pertama
Umi temui dilobi gedung Rektorat. Orang yang pertama Umi kenal dikampus. Orang
yang menegur dan mengajak Umi bicara saat wawancara beasiswa. Orang yang
mengisi hari - harinya dengan sejuta cerita yang tak mungkin Umi lupa. Meski
ajal didepan matanya pun Umi tak mungkin lupa. Irfan Syahreza mahasiswa asal
kota pahlawan, Surabaya. Berparas manis, mata sedikit sipit, kulit sawo matang,
tubuh yang agak berisi, tinggi kurang lebih 173 cm. Irfan sosok yang baik juga
religus. Rekan Umi di BEM FK, KAMMI, juga rekan dalam sebuah komunitas pecinta anak
jalanan di Jakarta.
Banyak
kisah dalam perjalanan hidupnya telah Umi ukir bersama Irfan. Ya, bersama
lelaki itu. Empat tahun kuliah dan berbagai kegiatannya hampir semua adalah
bersama Irfan. Hingga tanpa Umi sadari ia telah jatuh hati pada lelaki itu. Tanpa
pernah sempat ia ungkapkan perasaannya itu. Ia mencintai Irfan dalam
kesehariannya, mencintai Irfan dengan caranya, dalam diam namun sangatlah
dalam. Di dinding memorinya Irfan adalah goresan kaligrafi indah dan manis yang
tak mungkin pernah bisa untuk ia hapus. Dalam relung jiwanya gelora rasa cintanya
pada Irfan adalah udara yang menjadikannya ingin hidup berjuta tahun meski ruh
telah terpisah dari raga lemahnya. Irfan, Irfan, Irfan dan Irfan. Permata jiwa
Tiara Payumi. Irfan satu – satunya tempat Umi bermanja, berkeluh kesah,
bercanda ria. Dalam hidup Umi, Irfan adalah sosok malaikat.
Oh,
malaikat. Sungguh malaikat. Bersayap putih, berbaik hati, berbudi tinggi. Namun
semua kisah malaikat baik hati itu harus Umi kubur dalam, harus Umi paksa untuk
bunuh diri saat wisudanya . Sakit dan menyiksa diri namun itu harus ia lakukan.
Malaikat baik hati itu pergi dengan sejuta kenangan yang ia buat dan tinggalkan
begitu saja tanpa bertuan. Malaikat bersayap putih itu terbang tinggi jauh
meninggalkan Umi seoang diri.
Saat
wisuda, orang tua Irfan ternyata telah menyiapkan seorang wanita untuk
pendamping hidup Irfan. Wanita itu cantik, Aida kalau tidak salah namanya.
Usianya 3 tahun lebih muda dari Umi. Wanita itu pilihan orang tua Irfan dan mau
tak mau Irfan menuruti kemauan orang tuanya itu. Jelas ini membuat Umi bersedih
hati. Ada asa menyelinap pada diri Umi saat pertemuan dengan orang tua Irfan
dan Aida diwisuda waktu itu. Perasaan hancur, putus asa dan merana. Bunga cinta
yang Umi rawat dengan baiknya itu harus layu dan mati. Permata jiwa,
penyemangat hidupnya itu ternyata semu, permata itu kepunyaan orang lain. Mau
tak mau dan harus mau, Umi melepas permata jiwanya itu. Malaikat bersayap putih
itu harus ia relakan terbang tinggi dengan seorang bidadari yang bukan dirinya.
Luka menganga itu tertinggal dalam batin dan jiwa Umi. Luka kehilangan permata
jiwa. Luka yang mengahantarkannya pada kehidupan penuh sandiwara ini. Tersenyum manis, padahal jiwanya menangis.
Bertutur lembut meski hatinya terhanyut dalam kubangan luka yang penuh nestapa.
Bodoh,
itulah pikiran yang setiap detik menghantui Umi. Mengharap seseorang yang pergi
dan tak akan pernah kembali. Memupuk rasa yang tak akan pernah terungkap, membiarkan
bunga dihatinya tetap tumbuh dan merekah seorang diri lalu melayu dan gugur
tanpa seorang pun yang pernah tau keberadaannya. Luka dalam dan perih itu
adalah konsekuensi yang harus Umi rasa. Luka menganga itu masih terbuka lebar. Keping
rindu untuk malaikat bersayap putih itu masih lekat disetiap desah nafasnya,
masih enggan pergi dari relung jiwanya. Keping rindu teruntuk malaikat terindah
dalam hidupnya akan selalu ada, meski kelak ajal menjemputnya, memisahkan raga
dari ruhnya. Keping rindu itu masih akan
tetap ada dan terjaga. Keping rindu teruntuk makhluk teristimewa Tuhan, Irfan
Syahreza yang berada dibelahan dunia sana bernama Surabaya.
terkadang penantian itu harus di ucapkan, bila semuanya memang sudah siap,
BalasHapus:)
mungkin, ^^
Hapus