Senin, 31 Desember 2012

Paris

Aku ingat,
kemarin kamu bicara tentang paris
kamu sangat mengagumi paris
ingin pergi menuju paris..

tinggal dan bekerja disana
entah apa nama perusahaan yang kamu sebut kemarin, aku lupa
nama perusahaan itu agak sulit untuk kutulis dan ingat dalam memoriku..

tapi...
hari ini kamu bilang,
paris adalah mimpi si a
dan karena a begitu yakin pada mimpinya
kamu pun beresonansi dengan mimpinya
hari ini kamu bilang,
kamu tak tertarik lagi pada paris
kamu pergi dari mimpimu  dan si a
kamu mulai melupa tentang paris...

kamu begitu sulit di terka,
begitu banyak yang belum bisa kupahami, jadi teruslah bercerita...
^^


akhir tahun??


Pukul 12.38, cetar daaar deer dooor...
ah, mataku masih enggan terpejam dan sekali lagi kakiku melangkah menuju jendela
riuh, kabut malam kini berubah bak kanvas yang diwarnai jutaan pelangi
kembang api, suara terompet dan ya hiburan malam diluar sana masih saja membahana..

rasa kantuk itu tadi mendera begitu hebatnya
tapi kini entah hilang kemana
terlebih saat kuraih ponselku dari atas meja, 
belasan pesan masuk silih berganti, 
semua pesan itu isinya sama
semua berkata...
selamat tahun baru, atau happy new year
ah, sama saja...

harapan harapan manis diucapkan seribu, atau mungkin berjuta menusia malam ini
bagi seorang pedagang maka ia akan berharap dagannganya laris, murah rezekinya..
bagi seorang petani maka harapannya adalah tanah subur, panen dapat melimpah ruah..
bagi anak jalanan dan warga pinggiran, semoga hidup kita  lebih baik nantinya..
dan harapan lainnya......

refleksi akhir tahunku,
luruskan kembali niat
perubahan demi realisasi mimpi...^^




Wanita Hujan




“Saya yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang berbeda, Pita yang kemarin Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah Puspita yang bodoh, hanya demi seorang pria lantas mengorbankan segala kehidupannya. Sore itu saya menanti ia di persimpangan jalan, cinta saya padanya masih begitu besar. Saya masih enggan berpisah meski setiap hari ia hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan membentak saya, dihadapan putri kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya. Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena demam. Jujur saja, saya sempat defresi saat saya tahu ternyata suami saya memiliki istri lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya saya tidak percaya dan tak peduli dengan celoteh tetangga dan teman – teman saya. Tapi pada akhirnya pil pahit itu harus saya telan juga. Suami saya memiliki wanita lain diluar istana kami yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu. Ada pesan mesra yang saya temukan di telepon genggamnya, setiap kali bicara ditelepon maka ia akan membentak saya, menyuruh saya diam. Dan yang paling mengejutkan adalah lipstick di kerah kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di dasinya. Padahal aku tak pernah memakai lipstick terlebih parfum. Aku tak pernah mengira ia akan setega itu padaku.  Hingga kemarin saya datang ke desa ini, berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya, mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.