Jumat, 15 Februari 2013

Belum Peka??


aku sekarang mulai peka, tapi bagiku ini lucu
kenapa harus pada kamu??
bahkan aku belum mengenalmu
kamu siapapun aku belum begitu tahu
tapi senyum dan tatapan mata itu menjadikan luruh sudah semua tanyaku...

mungkin aku salah dalam merasa, aku benar - benar belum peka
senyum dan tatapanmu itu bisa saja sama seperti yang kamu beri pada yang lainnya
namun entah mengapa dengan alasan yang tak mampu diterjemahkan logika, atau pun digoreskan lewat kata - kata
bagiku senyum dan tatapanmu itu bak cahaya pada pekat malam yang menyala
tempat bagi segala ceritaku bermuara...

pada kamu yang aku belum mengenalnya,
aku mungkin salah dalam menerka
karena sekali lagi ini karena aku belum benar - benar peka dalam merasa

aku menyuka kamu sejak pertama, saat tanpa sengaja mata kita saling menyapa
lalu pada kamu juga aku sepenuhnya percaya
aku senang setiap kali aku dan kamu mulai bertegur sapa
atau terkadang hanya dalam kebisuan tanpa kata
juga dalam canda yang tak ayal mengundang gelak tawa

aku mungkin salah dalam merasa, aku belum benar - benar peka
kalau benar senyuman dan tatapan itu untukku adanya berbeda aku menerimanya, dan jikalau itu sama dengan yang kamu beri pada yang lainnya bagiku tak mengapa..

apa pun kebenarannya, aku menyukainya, aku akan tetap menerimanya
aku bahagia ketika kamu bahagia..

aku akan selalu ingat bahwa senyum dan tatapan itu aku pernah mengenalnya
biar ku pungut harapan yang tersisa, merindu kamu dan menyebut namamu dalam doa, karena dalam doa aku bebas mengungkap segalanya dan dalam doa pula aku bebas jatuh cinta..

Kamis, 14 Februari 2013

PERCAYA



lihatlah,
angin menghempas daun hingga jatuh di tanah
tapi apakah pernah daun yang jatuh itu mempersalahkan angin??
akan kah ia mempersalahkan angin atas apa yang tejadinya padanya??

begitu juga dengan hujan
bukankah hujan tak selalu berujung pada pelangi yang manis?
pun dengan kemarau
ia tak selalu berujung pada kerontang yang tragis
atau gersang, kekeringan, yang terasa begitu ironis...

terlalu banyak yang sejatinya tidak pernah kita pahami
semesta ini begitu penuh dengan misterinya yang sampai kini
tak pernah kita tahui rahasianya secara pasti..

sama halnya tentang dua keping hati
dua jiwa yang bermula pada kata menyuka,
merasa nyaman antara satu dengan lainnya
saling membersamai disetiap tempat dan kesempatan yang mereka punya
dengan rasa, serta atmosfer yang sama resonansi itu kini tercipta...

hanya saja,
sekuat apa pun frekuensi rasa itu kini menjelma

pada menjaga dan percayalah rasa itu bermuara...

demi menjaga kesucian rasanya, dua jiwa itu tak pernah mengungkapnya
keduanya menjalaninya begitu saja
jatuh cinta dan bercumbu mesra dalam doa
yang mereka yakini semua akan indah pada waktunya...

Sabtu, 09 Februari 2013

"maaf"



untuk kamu maaf mungkin aku egois,
aku tak tahu diri,
aku bukan orang yang peduli..
aku suka bertindak semauku sendiri.
aku sibuk dengan diriku sendiri.
tak punya waktu temani kamu.
dan sekarang aku lagi lagi - pergi semauku sendiri.
kamu kecewa, aku tahu itu pasti.
kamu terluka dan tersakiti itu juga aku tahu pasti.
aku sangat tahu dan memahami.
karena sebelum kamu aku juga pernah mengalaminya.
tapi seiring waktu aku yakin kamu bisa melupa aku,
melepas aku, mengikhlaskan aku..
tetap perbaiki diri yah,
baik tanpa aku dan bukan untuk aku
kamu bisa menjadi baik
kamu berhak dapat yang terbaik
meski mungkin bukan dengan aku
maafku untuk kamu... ^^

Selasa, 05 Februari 2013

SAMA


sama, dan semua masih sama
masih dengan suhu dan udara yang sama
masih dengan mentari yang sama, yang diam-diam bersembunyi disudut nirwana
dengan langit yang sama, kelabu tanpa warna
ranting kering yang kerontang diberanda
berharap hujan dapat mengusirnya, menghapuskan jejaknya dari semesta..

dengan cara yang sama
rintik, perlahan lalu kerontang itu pun sirna


kamu yang hanya diam dan tak suka beretorika
larut pada  rutinitas yang hanya itu - itu saja
namun sama,  aku tahu kamu sangat keras kepala

sama, dan lagi- lagi masih sama
aku belum memiliki keberanian untuk mengungkapnya
meski kini mungkin diwaktu yang berbeda ketakutanku masih sama
takutku masih besar, dan aku tak mengerti apa sebabnya
mungkin aku takut kecewa
aku takut kamu sama dengan yang lainnya 
aku terlalu takut kamu hanya fatamorgana yang menyata

dengan cara yang sama
aku akan tetap diam merindu kamu, tanpa perlu mengungkapnya
cukup dengan menatapmu dalam piksel - piksel terbatas yang ku punya..