Kamis, 31 Januari 2013

ILALANG


Padang ilalang...
disana aku berlarian, tersenyum, menatap langit yang luas terbentang
sembari sesekali berteriak menggerang
ditemani desau angin yang membawa anganku melayang..

Ilalang,
mengantarku pada masa yang seharusnya tak lagi ku kenang
tak layak, sungguh tak layak dikenang
seharusnya rasa itu dibiarkan saja hilang
tanpa harus pernah memori itu diputar ulang

Ilalang,
aku bukan pemilik jiwa yang kuat ibarat karang
aku hanya jiwa yang lemah, yang kalah sebelum menghunus pedang dimedan perang
bersamamu wahai ilalang
izinkan aku tersedu menjemput malam  kelam tanpa dihias bintang
dan berdoa pada Tuhan dimasanya nanti layarku akan kembali terkembang



Rabu, 30 Januari 2013

WAKTU




andai saja aku dapat memperbudak waktu, mengatur dan mempermainkan nya semau ku
aku akan menghentikannya sesaat, satu detik menuju masa lalu
menghapus  segala tentang ia jauh dari hidupku juga kamu
menuliskan hanya cerita tentang aku dan kamu
aku dan kamu, cukup aku dan kamu..

waktu,
andai aku dapat menghentikannya tepat saat mata ku juga kamu beradu
terus bicara dan bercerita meski tanpa suara, berjalan bersamaan, juga ujung sepatu yang beberapa kali beradu..

waktu,
andai detik - detik itu tidak segera berlalu
rasa yang ada itu tidak akan jadi residu

lagi - lagi tentang waktu, 
yang menjadikan antara aku dan kamu kini tercipta sebuah belenggu
jarak yang batasnya tak menentu dan ujungnya dimana aku tak tahu

waktu,
menghentikan segalanya, mengganti yakin kita dulu kini menjadi ragu - ragu
menjadikan tubuh ini batu sedang lidah berubah kelu
jejak yang sungguh pilu
waktu, telah mengkonversi rinduku padamu menjadikanya peluru yang membuatku tertunduk untuk melepas kamu...

Senin, 28 Januari 2013

DIAM



andai saya aku memiliki sedikit keberanian untuk berkata
tentu aku dan kamu tidak berada di ujung sebuah dilema
bayangnya begitu nyata menghantui setiap detik yang ada
menyita waktuku untuk kamu yang kian sedikit tersisa
oh sungguh aku ingin berkata padanya

AKU TIDAK SUKA KEHADIRANNYA

sedetik pun aku tak pernah menyuka ia
entah mengapa aku tak tahu sebabnya
mungkin karena dogma - dogma atau apa, yang pasti aku tidak suka
tak pernah mau ia hadir, meski hanya berupa maya...
 
DIAM..

begitulah yang aku lakukan menjalani waktuku saat terpaksa harus bersinggungan dengan segala rupa tentang ia

andai saja dia mau tahu makna dan mengerti diamku padanya yang selama ini tercipta
aku tak berarti mengiyakan setiap yang ia pinta,
aku hanya takut melukai dan membuatnya kecewa..
itu saja, aku terlalu takut merusak suasana dan alur ketika ia bahagia
meski sebenarnya aku tak nyaman dan keberatan dengan kehadirannya
aku sungguh tidak suka..

ah tapi apa daya,
aku kalah pada apa yang disebut mereka dengan iba
mana mungkin aku tega berkata demikian padanya??

 MAAF

maaf jikalau diamku padanya membuatmu penuh risau

maaf juga jika diamku menghantarmu pada kegundahan
maaf jika diamku penuh dengan ketidak pastian, menghadapkanmu pada keraguan..


aku dan kamu sama, kita tak pernah mengehendaki dia ada
salahku yang tak kuasa berkata padanya bahwa aku tidak suka dan tak akan pernah bisa menyuka padanya...

dan lagi lagi semua salahku yang berlakon DIAM






Jumat, 25 Januari 2013

MALAM



beriring pasukan bernama hujan, mentari beranjak menuju peraduannya
kini pekat malam telah tiba, menjadikan hari begitu lekat tanpa warna
yang hadir kini hanya senyap serta gelap yang menyata..

entahlah, sebab apa
sampai kini aku pun tak pernah mampu menerka
aku begitu takut pada gelap yang menjelma

tapi malam ini aku rasa berbeda
malam tak seburuk apa yang selama ini aku kira

senyum manismu yang selalu hadir diberanda, ternyata merasuk lebih dalam bahkan lebih dalam dari detik - detik yang kita lalui dengan diam...
ketika kau mulai berkata dan bercerita, sukmaku bergelora
berlanjut pada tawa renyahmu disudut malam, menjadikan malam menjadi terasa sempurna

andai saja kamu selalu ada
ku pikir aku tidak akan resah, takut saat malam tiba tanpa cahaya
malam tetap indah tanpa hadirnya purnama
ah tapi semua tiada guna, lebih baik aku segera melupa
harapku akan sia - sia, karena aku dan kamu adalah keping dua hati yang jauh berbeda
aku dan kamu tidak sama
dan cerita ini mungkin akan berakhir sama dengan yang lainnya
tapi setidaknya aku pernah dengan kamu dan merasa bahagia..

Rabu, 23 Januari 2013

Kamu





kamu tidak harus percaya,

andai kamu tak mau dengar pun tak apa...

tanpa kamu yang perduli dan mau tahu pun aku akan terus bercerita

merangkai kata, frasa hingga membentuk sebuah prosa

aku akan tetap bermain dengan kata - kata

aku akan terus melanjutkan kerjaku yang telah terlanjur beretorika
 
terkadang apa yang terucap hanya seonggok sampah kata yang tak bermakna mau pun guna

kadang juga kalimat yang sulit untuk dicerna

atau sebait kata yang tak mampu diterjemahkan logika...



kamu tak harus tahu,

karena kamu tahu atau tidak sama saja bagiku

teringat saat langit biru beranjak menuju kelabu

hujan, juga kamu yang menatap bayang pelangi yang nampak ditengah situ

dudukmu - senyummu - ekspresimu yang lugu

lucu dan tampak kaku...



kamu tidak harus mengerti,

mungkin aku pribadi yang akan sangat sulit untuk kamu pahami

aku tak pernah tahu apa yang aku kehendaki

senyap juga gelap dua hal yang terkadang aku takuti

meski aku tidak pernah tahu alasannya secara pasti

bukankah aku sungguh tiada arti??

mungkin saja bagimu aku  mati dan terbaring dalam peti

kamu lupa, bahwasanya peti itu bernama hati...

yang dalamnya kini berisi suka, cita dan cinta yang kian hari kian menjadi

sampai luka, risau, benci berlalu pergi tanpa ku izinkan sedetik pun menepi



kamu hadir dan mengisi ruang kosong dijiwaku terlalu cepat

proses ini  berjalan dengan sangat singkat, secepat kilat

kini dalam hariku juga memoriku kamu begitu lekat
rasa dan harapan itu kini berubah menjadi begitu pekat



kamu kamu dan kamu
 
kenapa harus kamu??
 
bukankah banyak penghuni semesta ini??
 
kenapa aku harus bertemu kamu
 
wajah itu, mata yang teduh itu, tutur kata yang lembut itu

semuanya itu menghantar aku untuk tetap merindu kamu

ya, hanya kamu...

tatapan teduh itu, senyum itu, adalah caramu menjamuku

tersipu, lugu dan kaku 

itu semua caramu...
 
menutup rapat semua jendela juga pintu yang ada dihatimu

menguncinya rapat, dan membiarkan aku tetap ada diberanda saja

menjelang harapan yang hanya berujung fatamorgana semata

karena disana kamu lebih dulu punyai dia, ah aku lupa namanya siapa

gadis yang cantik, pintar dan anggun mempesona

kamu, ya itu lah kamu

itulah caramu

kamu....



 




Jumat, 18 Januari 2013

Serasi



Serasi, kurang apa??
Bukan kah serasi berarti semua telah sempurna??

Serasi, kata yang indah.
Karena dengan serasi maka tidak akan pernah kita berjumpa pada apa itu gelisah.
Tidak akan bertemu pada satu masa yang disebut dengan gundah.
Bahkan berjuta karang bernama masalah akan menyerah padanya.

Serasi tidak berarti harus sama, serasi bisa saja jauh berbeda.
Tentang langit dan bumi??
Malam dan siang??
Matahari dan bulan??
Bukankah mereka tetap serasi meski mereka berbeda??
Serasi meski ada batas, sekat dan bolder diantara mereka.



Kembali kepada serasi yang coba ku sampaikan padamu
Serasi bukan hanya tentang kepantasan, kecocokan, derajat atau hal bodoh lainnya...

Serasi,
Berawal dari hanya sekedar tatap mata, diam sejuta bahasa tanpa kata.
Serasi yang bermula pada coretan - coretan dan goresan tinta
Serasi, tentang ungkapan - ungkapan rasa yang coba kita reka

Serasi, tentang perbedaan yang tidak pernah mengundang resah
Meski terkadang rasa dan realitas yang ada kerap kali buat jiwa jadi pongah
Menjamu gelisah, menjadikannya begitu nyata
Dan lagi - lagi tentang rasa, ia berada dalam luka juga dilema

Biarkan mulut bungkam seribu bahasa, tanpa suara
Karena serasi sesungguhnya bukan tentang kata

Serasi adalah tentang kesepakatan yang indah
Tentang insan yang merela berpisah lalu pada Tuhan lah mereka berpasrah....







Kamis, 17 Januari 2013

Desember




Biar saja aku lelap tertidur, atau mungkin juga keras mendengkur. Biar saja aku melakukannya. Jangan pernah coba bangunkan aku dari tidur panjangku.
Kau tahu??
Terkadang aku ingin menjadi ia si putri tidur. Yang dalam penantiannya tidak harus merasa apa itu cemas, apa itu khawatir, apa itu sepi, resah, atau sedikit kegetiran di jiwa ketika tak ada surat atau sekedar kabar burung tentang kamu.
Desember telah berlalu. Sudah berapa tahun sejak awal aku mengenal kamu.
Aku dan kamu yang mengenal ketika lugu. Lalu saling bertemu meski malu - malu. Lalu diakhiri dengan cerita tentang ragu - ragu.
Desember. Ku harap ia tidak pernah berlalu. Satu hal yang aku takut ketika Desember berlalu, maka aku juga harus melepas kamu.
Dan desember itu pun kini telah berlalu. Kamu telah ikut bersamanya meninggalkan sejuta pilu. Meninggalkan semacam kenangan indah namun terasa pahit bak empedu.
Desember telah berlalu. Begitu juga dengan kamu.
Kamu berlalu. Aku mengantarmu dengan sejuta kebisuan, dengan rasa yang membeku juga raga yang seketika membatu.




Harusnya



harusnya aku tahu, harusnya aku tak mengganggu dan mengusik hidupmu
harusnya antara dia dan kamu tidak ada aku
harusnya aku pergi saja dari dia juga kamu
harusnya aku....

harusnya aku tidak berada diatas dilema
harusnya aku tidak merasa apa itu nestapa
dan harusnya juga, 
harusnya aku tahu bahwa dunia ini tidak hanya tentang kamu, aku dan dia

harusnya aku tahu, kamu sudah dengan dia
harusnya aku juga tahu,
kamu tidaklah lebih dari seorang pendusta, kamu senantiasa bicara tentang rasa pada aku juga dia
semua yang kamu katakan kepadaku juga dia, aku yakin dengan diksi dan majas yang sama   
dan bodohnya...
aku, dia begitu mudahnya percaya

harusnya aku tahu, ini bukan tempat dimana seharusnya aku berada
ini bukan kisah dimana aku harus menjadi lakonnya
cerita ini harusnya hanya tentang kamu juga dia

harusnya dan hanya harusnya saja
sekarang antara kamu dan dia aku ada....

 

Senin, 14 Januari 2013

Keping Rindu




Sejak wisudanya dari  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa tahun lalu, Tiara Payumi menjadi seorang yang sangat disegani didesanya (Desa Gunung Putri, Tasikamalaya). Begitu pula dengan kedua orang tuanya, menjadi orang yang sangat dihormati didesa tersebut. Bagaimana tidak, ayah putri yang mulanya hanya seorang buruh di penggilingan padi serta ibunya yang hanya seorang buruh cuci kini hidupnya jauh lebih makmur bahkan bisa dibilang cukup kaya didesa tersebut. Maklum saja ‘Umi’, begitulah warga desa menyebut nama Tiara Payumi. Kini bekerja dirumah sakit swasta di daerah kota dengan gaji yang cukup besar. Selain itu, Umi juga membuka praktik didaerah Kawalu. Setiap sore kliniknya ramai,Umi disenangi oleh pasien-pasiennya karena keramahan dan kelembutan tutur katanya. Selain itu juga karena klinik Umi memang yang paling mudah dijangkau dari daerah pedesaan, tidak harus ke daerah kota, cukup dikecamatan.
Kesuksesan yang kini  Umi genggam melalui proses panjang dan tentu tak mudah. Sejak sekolah dasar Umi harus mengantar dan menjemput cucian dari warga yang memakai jasa cuci ibunya. Bahkan saat SMP sampai SMA Umi harus mencari uang sendiri guna membayar uang SPP sekolahnya. Setiap pagi, sekitar pukul 03.00 dini hari Umi pergi ke pasar dengan menumpang mobil angkutan kelapa dan beras. Ia ke pasar untuk berjualan unyil (kantong plastik). Kendati demikian Umi tetap menjadi siswi berprestasi disekolahnya. Sampai saat lulus SMA ia mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dengan beasiswa perluasan pendidikan dari pemerintah daerah kota Tasikmalaya. Kerasnya hidup menempa Umi menjadi sosok mandiri, pekerja keras, kuat, dan teguh pendirian.
Semua terbukti. Kehidupan Umi dan keluarganya kini telah banyak berubah. Lebih bahagia, lebih makmur, lebih kaya dan terhormat tentunya. Tidak dipandang sebelah mata lagi oleh para tetangga dan warga desa. Umi tidak lagi harus menerima pelecehan dari pak Harto, lelaki tua yang selalu memaksa orang tua Umi untuk menikahkan putri semata wayang mereka dengan  pria mata keranjang yang telah renta termakan usia itu.
Umi kembang desa yang cantik dan kini sukses. Hidupnya begitu luar biasa, setidaknya itu yang orang-orang katakan. Sungguh sempurna hidup seorang Tiara Payumi. Berputar seratus delapan puluh derajat. Ya, itu semua pandangan orang. Tetapi tidak dengan Umi. Ia mungkin bahagia dengan hidupnya sekarang. Orang tua yang bahagia akan kesuksesannya, rumah kepunyaan sendiri tidak lagi menumpang rumah kosong milik tetangga, uang ia punya, kerja dan penghasilan pun cukup menjanjikan, wajah cantik mempesona, hampir semua ia punya.
Tanpa ada yang tahu ternyata ada sejuta resah dalam hati seorang Umi yang memiliki ‘hidup sempurna’ itu. Setiap detik ada yang ia rasakan selalu hilang dalam dirinya. Senyumnya yang cantik menawan itu ibarat hunusan pedang pada jantungnya. Semakin indah senyumnya semakin sakit dan besar lukanya. Tutur katanya yang lembut itu, ibarat busur panah yang pasti terarah menuju muara hatinya. Setiap kata yang terucap dari mulutnya semakin menambah perih lukanya. Umi ibarat tengah bermain sandiwara. Dan aktingnya sangatlah luar biasa. Semua sandiwaranya tampak nyata namun sesungguhnya semua hanya bualan. Kebohongan semata. Siapa yang akan menyangka.
Ada yang telah hilang dari jiwa wanita paruh baya itu. Permata pada jiwanya telah hilang. Permata jiwa itu bernama cinta. Permata yang dalam buku - buku sastra mengubah dunia menjadi begitu mempesona, menjadikan setiap hela nafas begitu berharga, setiap detiknya begitu penuh makna. Setiap goresan kisahnya penuh warna ibarat pelangi, nikmatnya penuh rasa, terkadang manis dengan sedikit canda, pahit dan menangis dengan pertikaian – pertikaian kecil. Atau terkadang hambar dengan hanya diam sejuta bahasa.
Cinta Umi telah mati, lenyap bersama wisudanya dari Unversitas Indonesia. Cintanya telah hilang, pergi bersama makhluk bernama Irfan Syahreza. Orang yang pertama Umi temui dilobi gedung Rektorat. Orang yang pertama Umi kenal dikampus. Orang yang menegur dan mengajak Umi bicara saat wawancara beasiswa. Orang yang mengisi hari - harinya dengan sejuta cerita yang tak mungkin Umi lupa. Meski ajal didepan matanya pun Umi tak mungkin lupa. Irfan Syahreza mahasiswa asal kota pahlawan, Surabaya. Berparas manis, mata sedikit sipit, kulit sawo matang, tubuh yang agak berisi, tinggi kurang lebih 173 cm. Irfan sosok yang baik juga religus. Rekan Umi di BEM FK, KAMMI,  juga rekan dalam sebuah komunitas pecinta anak jalanan di Jakarta.
Banyak kisah dalam perjalanan hidupnya telah Umi ukir bersama Irfan. Ya, bersama lelaki itu. Empat tahun kuliah dan berbagai kegiatannya hampir semua adalah bersama Irfan. Hingga tanpa Umi sadari ia telah jatuh hati pada lelaki itu. Tanpa pernah sempat ia ungkapkan perasaannya itu. Ia mencintai Irfan dalam kesehariannya, mencintai Irfan dengan caranya, dalam diam namun sangatlah dalam. Di dinding memorinya Irfan adalah goresan kaligrafi indah dan manis yang tak mungkin pernah bisa untuk ia hapus. Dalam relung jiwanya gelora rasa cintanya pada Irfan adalah udara yang menjadikannya ingin hidup berjuta tahun meski ruh telah terpisah dari raga lemahnya. Irfan, Irfan, Irfan dan Irfan. Permata jiwa Tiara Payumi. Irfan satu – satunya tempat Umi bermanja, berkeluh kesah, bercanda ria. Dalam hidup Umi, Irfan adalah sosok malaikat.
Oh, malaikat. Sungguh malaikat. Bersayap putih, berbaik hati, berbudi tinggi. Namun semua kisah malaikat baik hati itu harus Umi kubur dalam, harus Umi paksa untuk bunuh diri saat wisudanya . Sakit dan menyiksa diri namun itu harus ia lakukan. Malaikat baik hati itu pergi dengan sejuta kenangan yang ia buat dan tinggalkan begitu saja tanpa bertuan. Malaikat bersayap putih itu terbang tinggi jauh meninggalkan Umi seoang diri.
Saat wisuda, orang tua Irfan ternyata telah menyiapkan seorang wanita untuk pendamping hidup Irfan. Wanita itu cantik, Aida kalau tidak salah namanya. Usianya 3 tahun lebih muda dari Umi. Wanita itu pilihan orang tua Irfan dan mau tak mau Irfan menuruti kemauan orang tuanya itu. Jelas ini membuat Umi bersedih hati. Ada asa menyelinap pada diri Umi saat pertemuan dengan orang tua Irfan dan Aida diwisuda waktu itu. Perasaan hancur, putus asa dan merana. Bunga cinta yang Umi rawat dengan baiknya itu harus layu dan mati. Permata jiwa, penyemangat hidupnya itu ternyata semu, permata itu kepunyaan orang lain. Mau tak mau dan harus mau, Umi melepas permata jiwanya itu. Malaikat bersayap putih itu harus ia relakan terbang tinggi dengan seorang bidadari yang bukan dirinya. Luka menganga itu tertinggal dalam batin dan jiwa Umi. Luka kehilangan permata jiwa. Luka yang mengahantarkannya pada kehidupan penuh sandiwara ini.  Tersenyum manis, padahal jiwanya menangis. Bertutur lembut meski hatinya terhanyut dalam  kubangan luka yang penuh nestapa.
Bodoh, itulah pikiran yang setiap detik menghantui Umi. Mengharap seseorang yang pergi dan tak akan pernah kembali. Memupuk rasa yang tak akan pernah terungkap, membiarkan bunga dihatinya tetap tumbuh dan merekah seorang diri lalu melayu dan gugur tanpa seorang pun yang pernah tau keberadaannya. Luka dalam dan perih itu adalah konsekuensi yang harus Umi rasa. Luka menganga itu masih terbuka lebar. Keping rindu untuk malaikat bersayap putih itu masih lekat disetiap desah nafasnya, masih enggan pergi dari relung jiwanya. Keping rindu teruntuk malaikat terindah dalam hidupnya akan selalu ada, meski kelak ajal menjemputnya, memisahkan raga dari  ruhnya. Keping rindu itu masih akan tetap ada dan terjaga. Keping rindu teruntuk makhluk teristimewa Tuhan, Irfan Syahreza yang berada dibelahan dunia sana bernama Surabaya.



Wanita Hujan


          

            Setibanya dirumah, ku rebahkan tubuhku yang masih kuyup diatas sofa. Dan seperti biasa ibu datang menyelendangkan handuk ke bahuku. “Mandi Zah, tubuhmu masih kuyup nanti ayahmu marah sofanya basah, mandi, nanti kamu sakit, ibu sudah siapkan air hangat. Setelah mandi jangan lupa minum coklatmu diatas meja”. (aku bergegas bangkit, sembari hormat), “siap bu!”.
Setelah mandi, ku ambil coklat hangat yang telah disiapkan ibu diatas meja. Aku berjalan menuju balkon. Berharap akan menemukan bias pelangi di nirwana. Pasti cantik. Hmm, wanita tadi siapa ya?? Parasnya cantik, baru pertama aku melihatnya di desa ini. Mungkin hanya lewat, siapa ya?? Kenapa tatapannya tampak kosong?? Masalah apa yang tengah ditanggungnya?? Memanjarakannya pada jiwa yang begitu dingin. Ah, kenapa aku harus memikirkannya. Siapa dia, apa masalahku (gumamku dalam hati, sembari terus bertanya-tanya tentang wanita itu ).
Aku bertemu ia disebuah persimpangan jalan saat hujan tengah deras mengguyur desa Cicuruk, sebuah desa kecil dipinggiran kota Bogor. Wanita paruh baya dengan mantel kulit berwarna hitam, payung berwarna marun. Anggun benar wanita itu berjalan dan kemudian berhenti. Rambutnya yang panjang tergerai indah, parasnya begitu menawan, kulit kuning langsat khas wanita Asia, namun saat ku dekati tampak ada yang hilang pada dirinya. Matanya tampak sayu, senyumnya yang cantik itu tampak dipaksakan.
“Assalaamu’alaaikum”, sapaku. “Wa’alaaikumsalaam, (sembari menarik nafas panjang). Tampak ada beban begitu berat yang tengah sangganya. “Hujannya deras sekali ya teh”, (ucapku mencoba mengawali pembicaraan). Wanita paruh baya itu hanya berkata “ya”, sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan apa yang baru saja ku ucapkan, lalu kembali terdiam dan menatap seberang jalan. Tatapannya tampak kosong, gelisah, ia seperti tengah mengharap kedatangan seseorang.
Hujan tak kunjung reda, Aku terus memandang wanita paruh baya itu,  hingga tanpa ku sadari adikku Azaki, tiba tepat dihadapanku dengan Vario merahnya. “Hayu, atuh teh  uih. Tiris pisan yeuh”, (keluh adikku, yang telah basah kuyup kehujanan).
Pertemuanku sore ini dengan wanita paruh baya itu harus berakhir disini.  Di ufuk senja, berteman rinai hujan yang tak kunjung reda.
Esok harinya, seperti biasa aku pergi mengantar donat dan lemper buatan ibu untuk dijajakan dikantin sekolah dan warung dipasar, lalu pergi menuju sebuah taman kanak-kanak didesa sebelah bernama TK Al-Mukaromah. Sejak 2 tahun lalu aku mengabdi sebagai tenaga pengajar di TK ini. Meski hanya dengan ijazah SLTA dan keterampilan yang sangat minimalis, berkat kesungguhan niat dan semangat mengabdi demi mencerdaskan generasi masa depan, tonggak kehidupan  bangsa, sampai kini aku masih bertahan di TK ini. Meski kadang jenuh dan lelah menderaku, tapi semua terasa sirna ketika ku tatap wajah malaikat – malaikat kecil yang tiap harinya terus bertumbuh. Malaikat – malaikat kecil yang senantiasa memanggilku bunda. Semua terasa sirna ketika jemari - jemari kecil itu, menarik kerudungku, “Bunda, bunda, bunda”, ada yang menangis, ada yang tersenyum, tertawa, loncat – loncat, mencoret dinding dengan crayon, atau sibuk membersihkan ingus dengan kerah bajunya.
 Braaaakk, dummmbb…!! Suara yang cukup keras terdengar dari luar jendela kelas. Aku bergegas keluar, setelah sebelumnya menyuruh anak – anak untuk tetap ditempat duduknya selama aku keluar. Tampak sebuah sepeda motor menabrak pot bunga kemboja yang ada ditepi gerbang sekolah. Meski wajahnya bersembunyi dibalik helm hitam yang terpasang kuat dikepalanya, tetapi  tingkah pengendara motor itu tak dapat menyembunyikan betapa bingung dan kikuknya ia akan apa saja yang baru terjadi. “Apakah anda tidak apa- apa tuan?? Ada yang bisa saya bantu??”, (tanyaku). “Emmm, ya saya tak apa nona”, (sembari membenarkan motornya, dan berlalu begitu saja). Segera ku langkahkan kakiku menuju ruangan kelas, tempat dimana malaikat – malaikat kecil itu telah menantiku sedari tadi.
Sekolah hari ini selesai, semua berdoa, lalu malaikat – malaikat kecil itu berbaris untuk pamit pulang. Satu – persatu jemari kecil itu menjamah jemariku dan mendaratkannya pada kening, atau bahkan pada mulut mungilnya lalu mengecup jemariku - jemariku dengan bibirnya. Ah, ini satu kenikmatan luar biasa yang aku ketahui selain coklat hangat buatan ibu. Ruh kenikamatan yang luar biasa, bahagia ketika bisa berbagi meski hanya sedikit sekali dari luasnya samudra ilmu yang ada.
Saat jam pulang seperti ini, riuh diluar kelas adalah hal biasa. Orang tua ramai datang menjemput anaknya. Belum selesai barisan malaikat kecil itu, aku dikejutkan dengan kehadiran wanita bercadar hitam di ambang pintu. “Assalaamu’alaaikum”. “Wa’alaaikumsalaam”, ( jawabku sambil terbata – bata). “Saya tunggu diluar ya za”, (ucap wanita itu). Hmm, siapa wanita bercadar itu. Aku tak mengenalnya sebelumnya, tapi mengapa ia seperti sangat mengenalku. Siapa wanita itu. Mengapa ia datang kemari, dan menemuiku, ada perlu apakah gerangan. Akan kah ia orang tua dari seorang malaikat yang selama ini belajar bersamaku. Atau ia, ah prasangka ku tak kunjung sirna. Aku terus coba menerka siapa wanita bercadar itu sampai malaikat –malaikat kecil yang berbaris dihadapanku pergi tanpa satu pun yang tersisa.
Ku ambil kertas origami yang terserak dibawah meja, lalu ku bereskan tasku, dan perlahan meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Ku langkahkan kakiku menuju depan kelas, dan benar saja disana ku temukan wanita bercadar hitam yang begitu anggun tadi masih duduk menantiku. Ku dekati wanita itu, aku duduk tepat disampingnya, diatas sebuah kursi kayu sepanjang 1, 5 meter ( persis seperti kursinya abang- abang siomay). “Maaf teh, ada yang bisa saya bantu”,  ucapku agak ragu. “Maaf, jikalau kedatangan saya mengejutkan dek Iza. Kenalkan nama saya Puspita, Iza bisa panggil saya Pita”, (ucap wanita itu sembari membuka cadarnya). “Subhanallah, cantik paras wanita itu, tatapan matanya sangat hangat, senyumnya menggetarkan jiwa, memaksa siapa pun yang melihatnya akan mengabarkan pada hati, ayo berbahagialah”.
“Iza ingat saya?”, aku menggeleng. “Kemarin, waktu hujan dipersimpangan jalan?? Itu saya za”. “itu teteh??” “ya, itu saya.” Andai ada sebuah cermin saat ini, dan aku berkaca mungkin wajahku akan sangat jelek, bingung dengan apa yang baru saja ku dengar. Bagaimana mungkin wanita yang kemarin anggun dengan rambutnya yang terurai indah, kini seluruh tubuhnya tertutup kain (hijab), kemarin ia begitu dingin, kini menjadi wanita terhangat yang pernah ku temui setelah ibu. Akankah fluktuasi secepat itu, hanya dalam hitungan jam, belum 24 jam sejak kemarin aku bertemu ia ditengah rinai hujan. Dalam kebingungan, aku berkata “maaf, kalau Iza boleh tau ada perlu apa ya teh? Adakah yang bisa Iza bantu untuk teteh?”. Wanita itu pun mulai melanjutkan retorika nya. Membiusku dengan cerita tentang dirinya.
“Saya yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang berbeda, Pita yang kemarin Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah Puspita yang bodoh, hanya demi seorang pria lantas mengorbankan segala kehidupannya. Sore itu saya menanti ia di persimpangan jalan, cinta saya padanya masih begitu besar. Saya masih enggan berpisah meski setiap hari ia hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan membentak saya, dihadapan putri kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya. Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena demam. Jujur saja, saya sempat defresi saat saya tahu ternyata suami saya memiliki istri lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya saya tidak percaya dan tak peduli dengan celoteh tetangga dan teman – teman saya. Tapi pada akhirnya pil pahit itu harus saya telan juga. Suami saya memiliki wanita lain diluar istana kami yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu. Ada pesan mesra yang saya temukan di telepon genggamnya, setiap kali bicara ditelepon maka ia akan membentak saya, menyuruh saya diam. Dan yang paling mengejutkan adalah lipstick di kerah kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di dasinya. Padahal aku tak pernah memakai lipstick terlebih parfum. Aku tak pernah mengira ia akan setega itu padaku.  Hingga kemarin saya datang ke desa ini, berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya, mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.
Saya tahu, mungkin Iza bingung dengan semua cerita ini dan maksud kedatangan saya kemari. Maaf, jika Iza keberatan dengan kedatangan dan omong kosong saya ini. Saya hanya ingin mengurus surat kepindahan Putri, karena jarak tempuh yang cukup jauh jika harus disini. Saya harap Iza, bisa membantu mengurusnya. Maaf terlalu banyak bercerita, saya kembali kepada diri saya sebelum mengenal lelaki itu, dengan hijab ini Alhamdulillah, hujan badai itu berlalu. Kini yang ada hanya bias pelangi yang indah menawan jiwa. Mengembalikan jiwa pada ketenangan luat biasa, dan saya bahagia”.
Aku hanya terdiam terkesima mendengar semua cerita ibunda dari Putri, seorang malaikat kecil yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. “Hmm, iya tentu saja teh. Pasti akan saya bantu urus surat pindahnya. Salam ya teh buat Putri. Insya’Allah surat pindahnya bisa teteh ambil besok pagi”. “Baiklah, terimakasih ya za atas pengertiannya. Saya  pamit dulu, Assalaamu’alaaikum”. (seraya kembali mengenakan cadarnya, dan bangkit). “Wa’alaaikumsalaam, iya teh”. Wanita itu berlalu dari hadapanku tampak begitu menawan.
Subhanallah, luar biasa kuat wanita itu. Luar biasa dahsyaat cara Allah memberikan teguran kepadanya, menegurnya dari kelalaiannya selama pernikahannya. Rahmat Allah untuknya. Benar – benar perjalanan hidup yang menginspirasi. Tak ada pelangi yang indah tanpa rintik hujan. Dan Allah tidak akan menguji hambaNya, diluar batas kemampuan hambanya. Wanita ditengah rinai hujan itu. Aku mengaguminya.  ^^