Setibanya dirumah, ku rebahkan tubuhku yang masih kuyup diatas sofa. Dan seperti biasa ibu datang menyelendangkan handuk ke bahuku. “Mandi Zah, tubuhmu masih kuyup nanti ayahmu marah sofanya basah, mandi, nanti kamu sakit, ibu sudah siapkan air hangat. Setelah mandi jangan lupa minum coklatmu diatas meja”. (aku bergegas bangkit, sembari hormat), “siap bu!”.
Setelah mandi, ku ambil coklat hangat yang telah disiapkan
ibu diatas meja. Aku berjalan menuju balkon. Berharap akan menemukan bias
pelangi di nirwana. Pasti cantik. Hmm, wanita tadi siapa ya?? Parasnya cantik,
baru pertama aku melihatnya di desa ini. Mungkin hanya lewat, siapa ya?? Kenapa
tatapannya tampak kosong?? Masalah apa yang tengah ditanggungnya??
Memanjarakannya pada jiwa yang begitu dingin. Ah, kenapa aku harus
memikirkannya. Siapa dia, apa masalahku (gumamku dalam hati, sembari terus
bertanya-tanya tentang wanita itu ).
Aku bertemu ia disebuah persimpangan jalan saat hujan tengah
deras mengguyur desa Cicuruk, sebuah desa kecil dipinggiran kota Bogor. Wanita
paruh baya dengan mantel kulit berwarna hitam, payung berwarna marun. Anggun
benar wanita itu berjalan dan kemudian berhenti. Rambutnya yang panjang
tergerai indah, parasnya begitu menawan, kulit kuning langsat khas wanita Asia,
namun saat ku dekati tampak ada yang hilang pada dirinya. Matanya tampak sayu,
senyumnya yang cantik itu tampak dipaksakan.
“Assalaamu’alaaikum”, sapaku. “Wa’alaaikumsalaam, (sembari menarik nafas panjang). Tampak ada beban begitu berat yang tengah sangganya. “Hujannya deras sekali ya teh”, (ucapku mencoba mengawali pembicaraan). Wanita paruh baya itu hanya berkata “ya”, sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan apa yang baru saja ku ucapkan, lalu kembali terdiam dan menatap seberang jalan. Tatapannya tampak kosong, gelisah, ia seperti tengah mengharap kedatangan seseorang.
“Assalaamu’alaaikum”, sapaku. “Wa’alaaikumsalaam, (sembari menarik nafas panjang). Tampak ada beban begitu berat yang tengah sangganya. “Hujannya deras sekali ya teh”, (ucapku mencoba mengawali pembicaraan). Wanita paruh baya itu hanya berkata “ya”, sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan apa yang baru saja ku ucapkan, lalu kembali terdiam dan menatap seberang jalan. Tatapannya tampak kosong, gelisah, ia seperti tengah mengharap kedatangan seseorang.
Hujan tak kunjung reda, Aku terus memandang wanita paruh
baya itu, hingga tanpa ku sadari adikku
Azaki, tiba tepat dihadapanku dengan Vario merahnya. “Hayu, atuh teh uih. Tiris pisan yeuh”, (keluh adikku, yang
telah basah kuyup kehujanan).
Pertemuanku sore ini dengan wanita paruh baya itu harus berakhir disini. Di ufuk senja, berteman rinai hujan yang tak kunjung reda.
Pertemuanku sore ini dengan wanita paruh baya itu harus berakhir disini. Di ufuk senja, berteman rinai hujan yang tak kunjung reda.
Esok harinya, seperti biasa aku pergi mengantar donat dan
lemper buatan ibu untuk dijajakan dikantin sekolah dan warung dipasar, lalu
pergi menuju sebuah taman kanak-kanak didesa sebelah bernama TK Al-Mukaromah.
Sejak 2 tahun lalu aku mengabdi sebagai tenaga pengajar di TK ini. Meski hanya
dengan ijazah SLTA dan keterampilan yang sangat minimalis, berkat kesungguhan
niat dan semangat mengabdi demi mencerdaskan generasi masa depan, tonggak kehidupan bangsa, sampai kini aku masih bertahan di TK
ini. Meski kadang jenuh dan lelah menderaku, tapi semua terasa sirna ketika ku
tatap wajah malaikat – malaikat kecil yang tiap harinya terus bertumbuh.
Malaikat – malaikat kecil yang senantiasa memanggilku bunda. Semua terasa sirna
ketika jemari - jemari kecil itu, menarik kerudungku, “Bunda, bunda, bunda”,
ada yang menangis, ada yang tersenyum, tertawa, loncat – loncat, mencoret
dinding dengan crayon, atau sibuk membersihkan ingus dengan kerah bajunya.
Braaaakk, dummmbb…!!
Suara yang cukup keras terdengar dari luar jendela kelas. Aku bergegas keluar,
setelah sebelumnya menyuruh anak – anak untuk tetap ditempat duduknya selama
aku keluar. Tampak sebuah sepeda motor menabrak pot bunga kemboja yang ada
ditepi gerbang sekolah. Meski wajahnya bersembunyi dibalik helm hitam yang
terpasang kuat dikepalanya, tetapi
tingkah pengendara motor itu tak dapat menyembunyikan betapa bingung dan
kikuknya ia akan apa saja yang baru terjadi. “Apakah anda tidak apa- apa tuan??
Ada yang bisa saya bantu??”, (tanyaku). “Emmm, ya saya tak apa nona”, (sembari
membenarkan motornya, dan berlalu begitu saja). Segera ku langkahkan kakiku
menuju ruangan kelas, tempat dimana malaikat – malaikat kecil itu telah
menantiku sedari tadi.
Sekolah hari ini selesai, semua berdoa, lalu malaikat –
malaikat kecil itu berbaris untuk pamit pulang. Satu – persatu jemari kecil itu
menjamah jemariku dan mendaratkannya pada kening, atau bahkan pada mulut
mungilnya lalu mengecup jemariku - jemariku dengan bibirnya. Ah, ini satu
kenikmatan luar biasa yang aku ketahui selain coklat hangat buatan ibu. Ruh
kenikamatan yang luar biasa, bahagia ketika bisa berbagi meski hanya sedikit
sekali dari luasnya samudra ilmu yang ada.
Saat jam pulang seperti ini, riuh diluar kelas adalah hal
biasa. Orang tua ramai datang menjemput anaknya. Belum selesai barisan malaikat
kecil itu, aku dikejutkan dengan kehadiran wanita bercadar hitam di ambang
pintu. “Assalaamu’alaaikum”. “Wa’alaaikumsalaam”, ( jawabku sambil terbata – bata).
“Saya tunggu diluar ya za”, (ucap wanita itu). Hmm, siapa wanita bercadar itu.
Aku tak mengenalnya sebelumnya, tapi mengapa ia seperti sangat mengenalku.
Siapa wanita itu. Mengapa ia datang kemari, dan menemuiku, ada perlu apakah
gerangan. Akan kah ia orang tua dari seorang malaikat yang selama ini belajar
bersamaku. Atau ia, ah prasangka ku tak kunjung sirna. Aku terus coba menerka
siapa wanita bercadar itu sampai malaikat –malaikat kecil yang berbaris
dihadapanku pergi tanpa satu pun yang tersisa.
Ku ambil kertas origami yang terserak dibawah meja, lalu ku
bereskan tasku, dan perlahan meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Ku
langkahkan kakiku menuju depan kelas, dan benar saja disana ku temukan wanita
bercadar hitam yang begitu anggun tadi masih duduk menantiku. Ku dekati wanita
itu, aku duduk tepat disampingnya, diatas sebuah kursi kayu sepanjang 1, 5
meter ( persis seperti kursinya abang- abang siomay). “Maaf teh, ada yang bisa
saya bantu”, ucapku agak ragu. “Maaf,
jikalau kedatangan saya mengejutkan dek Iza. Kenalkan nama saya Puspita, Iza
bisa panggil saya Pita”, (ucap wanita itu sembari membuka cadarnya).
“Subhanallah, cantik paras wanita itu, tatapan matanya sangat hangat, senyumnya
menggetarkan jiwa, memaksa siapa pun yang melihatnya akan mengabarkan pada
hati, ayo berbahagialah”.
“Iza ingat saya?”, aku menggeleng. “Kemarin, waktu hujan
dipersimpangan jalan?? Itu saya za”. “itu teteh??” “ya, itu saya.” Andai ada
sebuah cermin saat ini, dan aku berkaca mungkin wajahku akan sangat jelek,
bingung dengan apa yang baru saja ku dengar. Bagaimana mungkin wanita yang
kemarin anggun dengan rambutnya yang terurai indah, kini seluruh tubuhnya
tertutup kain (hijab), kemarin ia begitu dingin, kini menjadi wanita terhangat
yang pernah ku temui setelah ibu. Akankah fluktuasi secepat itu, hanya dalam
hitungan jam, belum 24 jam sejak kemarin aku bertemu ia ditengah rinai hujan. Dalam
kebingungan, aku berkata “maaf, kalau Iza boleh tau ada perlu apa ya teh?
Adakah yang bisa Iza bantu untuk teteh?”. Wanita itu pun mulai melanjutkan
retorika nya. Membiusku dengan cerita tentang dirinya.
“Saya yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang
berbeda, Pita yang kemarin Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah
Puspita yang bodoh, hanya demi seorang pria lantas mengorbankan segala
kehidupannya. Sore itu saya menanti ia di persimpangan jalan, cinta saya
padanya masih begitu besar. Saya masih enggan berpisah meski setiap hari ia
hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan membentak saya, dihadapan putri
kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya. Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di
taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena demam. Jujur
saja, saya sempat defresi saat saya tahu ternyata suami saya memiliki istri
lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya saya tidak percaya dan tak peduli
dengan celoteh tetangga dan teman – teman saya. Tapi pada akhirnya pil pahit
itu harus saya telan juga. Suami saya memiliki wanita lain diluar istana kami
yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu. Ada pesan mesra yang saya temukan di
telepon genggamnya, setiap kali bicara ditelepon maka ia akan membentak saya,
menyuruh saya diam. Dan yang paling mengejutkan adalah lipstick di kerah
kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di dasinya. Padahal aku tak pernah memakai
lipstick terlebih parfum. Aku tak pernah mengira ia akan setega itu padaku. Hingga kemarin saya datang ke desa ini,
berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar
berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya
datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada
saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah
samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya
tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami
saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya,
mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak
mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada
seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya
mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan
hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi
tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah
yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju
rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.
Saya tahu, mungkin Iza bingung dengan semua cerita ini dan
maksud kedatangan saya kemari. Maaf, jika Iza keberatan dengan kedatangan dan
omong kosong saya ini. Saya hanya ingin mengurus surat kepindahan Putri, karena
jarak tempuh yang cukup jauh jika harus disini. Saya harap Iza, bisa membantu
mengurusnya. Maaf terlalu banyak bercerita, saya kembali kepada diri saya
sebelum mengenal lelaki itu, dengan hijab ini Alhamdulillah, hujan badai itu
berlalu. Kini yang ada hanya bias pelangi yang indah menawan jiwa.
Mengembalikan jiwa pada ketenangan luat biasa, dan saya bahagia”.
Aku hanya terdiam terkesima mendengar semua cerita ibunda
dari Putri, seorang malaikat kecil yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah
ini. “Hmm, iya tentu saja teh. Pasti akan saya bantu urus surat pindahnya.
Salam ya teh buat Putri. Insya’Allah surat pindahnya bisa teteh ambil besok
pagi”. “Baiklah, terimakasih ya za atas pengertiannya. Saya pamit dulu, Assalaamu’alaaikum”. (seraya
kembali mengenakan cadarnya, dan bangkit). “Wa’alaaikumsalaam, iya teh”. Wanita
itu berlalu dari hadapanku tampak begitu menawan.
Subhanallah, luar biasa kuat wanita itu. Luar biasa dahsyaat
cara Allah memberikan teguran kepadanya, menegurnya dari kelalaiannya selama
pernikahannya. Rahmat Allah untuknya. Benar – benar perjalanan hidup yang
menginspirasi. Tak ada pelangi yang indah tanpa rintik hujan. Dan Allah tidak
akan menguji hambaNya, diluar batas kemampuan hambanya. Wanita ditengah rinai
hujan itu. Aku mengaguminya. ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejakmu, ^^..