Senin, 14 Januari 2013

Wanita Hujan


          

            Setibanya dirumah, ku rebahkan tubuhku yang masih kuyup diatas sofa. Dan seperti biasa ibu datang menyelendangkan handuk ke bahuku. “Mandi Zah, tubuhmu masih kuyup nanti ayahmu marah sofanya basah, mandi, nanti kamu sakit, ibu sudah siapkan air hangat. Setelah mandi jangan lupa minum coklatmu diatas meja”. (aku bergegas bangkit, sembari hormat), “siap bu!”.
Setelah mandi, ku ambil coklat hangat yang telah disiapkan ibu diatas meja. Aku berjalan menuju balkon. Berharap akan menemukan bias pelangi di nirwana. Pasti cantik. Hmm, wanita tadi siapa ya?? Parasnya cantik, baru pertama aku melihatnya di desa ini. Mungkin hanya lewat, siapa ya?? Kenapa tatapannya tampak kosong?? Masalah apa yang tengah ditanggungnya?? Memanjarakannya pada jiwa yang begitu dingin. Ah, kenapa aku harus memikirkannya. Siapa dia, apa masalahku (gumamku dalam hati, sembari terus bertanya-tanya tentang wanita itu ).
Aku bertemu ia disebuah persimpangan jalan saat hujan tengah deras mengguyur desa Cicuruk, sebuah desa kecil dipinggiran kota Bogor. Wanita paruh baya dengan mantel kulit berwarna hitam, payung berwarna marun. Anggun benar wanita itu berjalan dan kemudian berhenti. Rambutnya yang panjang tergerai indah, parasnya begitu menawan, kulit kuning langsat khas wanita Asia, namun saat ku dekati tampak ada yang hilang pada dirinya. Matanya tampak sayu, senyumnya yang cantik itu tampak dipaksakan.
“Assalaamu’alaaikum”, sapaku. “Wa’alaaikumsalaam, (sembari menarik nafas panjang). Tampak ada beban begitu berat yang tengah sangganya. “Hujannya deras sekali ya teh”, (ucapku mencoba mengawali pembicaraan). Wanita paruh baya itu hanya berkata “ya”, sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan apa yang baru saja ku ucapkan, lalu kembali terdiam dan menatap seberang jalan. Tatapannya tampak kosong, gelisah, ia seperti tengah mengharap kedatangan seseorang.
Hujan tak kunjung reda, Aku terus memandang wanita paruh baya itu,  hingga tanpa ku sadari adikku Azaki, tiba tepat dihadapanku dengan Vario merahnya. “Hayu, atuh teh  uih. Tiris pisan yeuh”, (keluh adikku, yang telah basah kuyup kehujanan).
Pertemuanku sore ini dengan wanita paruh baya itu harus berakhir disini.  Di ufuk senja, berteman rinai hujan yang tak kunjung reda.
Esok harinya, seperti biasa aku pergi mengantar donat dan lemper buatan ibu untuk dijajakan dikantin sekolah dan warung dipasar, lalu pergi menuju sebuah taman kanak-kanak didesa sebelah bernama TK Al-Mukaromah. Sejak 2 tahun lalu aku mengabdi sebagai tenaga pengajar di TK ini. Meski hanya dengan ijazah SLTA dan keterampilan yang sangat minimalis, berkat kesungguhan niat dan semangat mengabdi demi mencerdaskan generasi masa depan, tonggak kehidupan  bangsa, sampai kini aku masih bertahan di TK ini. Meski kadang jenuh dan lelah menderaku, tapi semua terasa sirna ketika ku tatap wajah malaikat – malaikat kecil yang tiap harinya terus bertumbuh. Malaikat – malaikat kecil yang senantiasa memanggilku bunda. Semua terasa sirna ketika jemari - jemari kecil itu, menarik kerudungku, “Bunda, bunda, bunda”, ada yang menangis, ada yang tersenyum, tertawa, loncat – loncat, mencoret dinding dengan crayon, atau sibuk membersihkan ingus dengan kerah bajunya.
 Braaaakk, dummmbb…!! Suara yang cukup keras terdengar dari luar jendela kelas. Aku bergegas keluar, setelah sebelumnya menyuruh anak – anak untuk tetap ditempat duduknya selama aku keluar. Tampak sebuah sepeda motor menabrak pot bunga kemboja yang ada ditepi gerbang sekolah. Meski wajahnya bersembunyi dibalik helm hitam yang terpasang kuat dikepalanya, tetapi  tingkah pengendara motor itu tak dapat menyembunyikan betapa bingung dan kikuknya ia akan apa saja yang baru terjadi. “Apakah anda tidak apa- apa tuan?? Ada yang bisa saya bantu??”, (tanyaku). “Emmm, ya saya tak apa nona”, (sembari membenarkan motornya, dan berlalu begitu saja). Segera ku langkahkan kakiku menuju ruangan kelas, tempat dimana malaikat – malaikat kecil itu telah menantiku sedari tadi.
Sekolah hari ini selesai, semua berdoa, lalu malaikat – malaikat kecil itu berbaris untuk pamit pulang. Satu – persatu jemari kecil itu menjamah jemariku dan mendaratkannya pada kening, atau bahkan pada mulut mungilnya lalu mengecup jemariku - jemariku dengan bibirnya. Ah, ini satu kenikmatan luar biasa yang aku ketahui selain coklat hangat buatan ibu. Ruh kenikamatan yang luar biasa, bahagia ketika bisa berbagi meski hanya sedikit sekali dari luasnya samudra ilmu yang ada.
Saat jam pulang seperti ini, riuh diluar kelas adalah hal biasa. Orang tua ramai datang menjemput anaknya. Belum selesai barisan malaikat kecil itu, aku dikejutkan dengan kehadiran wanita bercadar hitam di ambang pintu. “Assalaamu’alaaikum”. “Wa’alaaikumsalaam”, ( jawabku sambil terbata – bata). “Saya tunggu diluar ya za”, (ucap wanita itu). Hmm, siapa wanita bercadar itu. Aku tak mengenalnya sebelumnya, tapi mengapa ia seperti sangat mengenalku. Siapa wanita itu. Mengapa ia datang kemari, dan menemuiku, ada perlu apakah gerangan. Akan kah ia orang tua dari seorang malaikat yang selama ini belajar bersamaku. Atau ia, ah prasangka ku tak kunjung sirna. Aku terus coba menerka siapa wanita bercadar itu sampai malaikat –malaikat kecil yang berbaris dihadapanku pergi tanpa satu pun yang tersisa.
Ku ambil kertas origami yang terserak dibawah meja, lalu ku bereskan tasku, dan perlahan meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Ku langkahkan kakiku menuju depan kelas, dan benar saja disana ku temukan wanita bercadar hitam yang begitu anggun tadi masih duduk menantiku. Ku dekati wanita itu, aku duduk tepat disampingnya, diatas sebuah kursi kayu sepanjang 1, 5 meter ( persis seperti kursinya abang- abang siomay). “Maaf teh, ada yang bisa saya bantu”,  ucapku agak ragu. “Maaf, jikalau kedatangan saya mengejutkan dek Iza. Kenalkan nama saya Puspita, Iza bisa panggil saya Pita”, (ucap wanita itu sembari membuka cadarnya). “Subhanallah, cantik paras wanita itu, tatapan matanya sangat hangat, senyumnya menggetarkan jiwa, memaksa siapa pun yang melihatnya akan mengabarkan pada hati, ayo berbahagialah”.
“Iza ingat saya?”, aku menggeleng. “Kemarin, waktu hujan dipersimpangan jalan?? Itu saya za”. “itu teteh??” “ya, itu saya.” Andai ada sebuah cermin saat ini, dan aku berkaca mungkin wajahku akan sangat jelek, bingung dengan apa yang baru saja ku dengar. Bagaimana mungkin wanita yang kemarin anggun dengan rambutnya yang terurai indah, kini seluruh tubuhnya tertutup kain (hijab), kemarin ia begitu dingin, kini menjadi wanita terhangat yang pernah ku temui setelah ibu. Akankah fluktuasi secepat itu, hanya dalam hitungan jam, belum 24 jam sejak kemarin aku bertemu ia ditengah rinai hujan. Dalam kebingungan, aku berkata “maaf, kalau Iza boleh tau ada perlu apa ya teh? Adakah yang bisa Iza bantu untuk teteh?”. Wanita itu pun mulai melanjutkan retorika nya. Membiusku dengan cerita tentang dirinya.
“Saya yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang berbeda, Pita yang kemarin Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah Puspita yang bodoh, hanya demi seorang pria lantas mengorbankan segala kehidupannya. Sore itu saya menanti ia di persimpangan jalan, cinta saya padanya masih begitu besar. Saya masih enggan berpisah meski setiap hari ia hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan membentak saya, dihadapan putri kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya. Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena demam. Jujur saja, saya sempat defresi saat saya tahu ternyata suami saya memiliki istri lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya saya tidak percaya dan tak peduli dengan celoteh tetangga dan teman – teman saya. Tapi pada akhirnya pil pahit itu harus saya telan juga. Suami saya memiliki wanita lain diluar istana kami yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu. Ada pesan mesra yang saya temukan di telepon genggamnya, setiap kali bicara ditelepon maka ia akan membentak saya, menyuruh saya diam. Dan yang paling mengejutkan adalah lipstick di kerah kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di dasinya. Padahal aku tak pernah memakai lipstick terlebih parfum. Aku tak pernah mengira ia akan setega itu padaku.  Hingga kemarin saya datang ke desa ini, berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya, mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.
Saya tahu, mungkin Iza bingung dengan semua cerita ini dan maksud kedatangan saya kemari. Maaf, jika Iza keberatan dengan kedatangan dan omong kosong saya ini. Saya hanya ingin mengurus surat kepindahan Putri, karena jarak tempuh yang cukup jauh jika harus disini. Saya harap Iza, bisa membantu mengurusnya. Maaf terlalu banyak bercerita, saya kembali kepada diri saya sebelum mengenal lelaki itu, dengan hijab ini Alhamdulillah, hujan badai itu berlalu. Kini yang ada hanya bias pelangi yang indah menawan jiwa. Mengembalikan jiwa pada ketenangan luat biasa, dan saya bahagia”.
Aku hanya terdiam terkesima mendengar semua cerita ibunda dari Putri, seorang malaikat kecil yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. “Hmm, iya tentu saja teh. Pasti akan saya bantu urus surat pindahnya. Salam ya teh buat Putri. Insya’Allah surat pindahnya bisa teteh ambil besok pagi”. “Baiklah, terimakasih ya za atas pengertiannya. Saya  pamit dulu, Assalaamu’alaaikum”. (seraya kembali mengenakan cadarnya, dan bangkit). “Wa’alaaikumsalaam, iya teh”. Wanita itu berlalu dari hadapanku tampak begitu menawan.
Subhanallah, luar biasa kuat wanita itu. Luar biasa dahsyaat cara Allah memberikan teguran kepadanya, menegurnya dari kelalaiannya selama pernikahannya. Rahmat Allah untuknya. Benar – benar perjalanan hidup yang menginspirasi. Tak ada pelangi yang indah tanpa rintik hujan. Dan Allah tidak akan menguji hambaNya, diluar batas kemampuan hambanya. Wanita ditengah rinai hujan itu. Aku mengaguminya.  ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu, ^^..