Senin, 14 Januari 2013

Keping Rindu




Sejak wisudanya dari  Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia beberapa tahun lalu, Tiara Payumi menjadi seorang yang sangat disegani didesanya (Desa Gunung Putri, Tasikamalaya). Begitu pula dengan kedua orang tuanya, menjadi orang yang sangat dihormati didesa tersebut. Bagaimana tidak, ayah putri yang mulanya hanya seorang buruh di penggilingan padi serta ibunya yang hanya seorang buruh cuci kini hidupnya jauh lebih makmur bahkan bisa dibilang cukup kaya didesa tersebut. Maklum saja ‘Umi’, begitulah warga desa menyebut nama Tiara Payumi. Kini bekerja dirumah sakit swasta di daerah kota dengan gaji yang cukup besar. Selain itu, Umi juga membuka praktik didaerah Kawalu. Setiap sore kliniknya ramai,Umi disenangi oleh pasien-pasiennya karena keramahan dan kelembutan tutur katanya. Selain itu juga karena klinik Umi memang yang paling mudah dijangkau dari daerah pedesaan, tidak harus ke daerah kota, cukup dikecamatan.
Kesuksesan yang kini  Umi genggam melalui proses panjang dan tentu tak mudah. Sejak sekolah dasar Umi harus mengantar dan menjemput cucian dari warga yang memakai jasa cuci ibunya. Bahkan saat SMP sampai SMA Umi harus mencari uang sendiri guna membayar uang SPP sekolahnya. Setiap pagi, sekitar pukul 03.00 dini hari Umi pergi ke pasar dengan menumpang mobil angkutan kelapa dan beras. Ia ke pasar untuk berjualan unyil (kantong plastik). Kendati demikian Umi tetap menjadi siswi berprestasi disekolahnya. Sampai saat lulus SMA ia mendapat kesempatan melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dengan beasiswa perluasan pendidikan dari pemerintah daerah kota Tasikmalaya. Kerasnya hidup menempa Umi menjadi sosok mandiri, pekerja keras, kuat, dan teguh pendirian.
Semua terbukti. Kehidupan Umi dan keluarganya kini telah banyak berubah. Lebih bahagia, lebih makmur, lebih kaya dan terhormat tentunya. Tidak dipandang sebelah mata lagi oleh para tetangga dan warga desa. Umi tidak lagi harus menerima pelecehan dari pak Harto, lelaki tua yang selalu memaksa orang tua Umi untuk menikahkan putri semata wayang mereka dengan  pria mata keranjang yang telah renta termakan usia itu.
Umi kembang desa yang cantik dan kini sukses. Hidupnya begitu luar biasa, setidaknya itu yang orang-orang katakan. Sungguh sempurna hidup seorang Tiara Payumi. Berputar seratus delapan puluh derajat. Ya, itu semua pandangan orang. Tetapi tidak dengan Umi. Ia mungkin bahagia dengan hidupnya sekarang. Orang tua yang bahagia akan kesuksesannya, rumah kepunyaan sendiri tidak lagi menumpang rumah kosong milik tetangga, uang ia punya, kerja dan penghasilan pun cukup menjanjikan, wajah cantik mempesona, hampir semua ia punya.
Tanpa ada yang tahu ternyata ada sejuta resah dalam hati seorang Umi yang memiliki ‘hidup sempurna’ itu. Setiap detik ada yang ia rasakan selalu hilang dalam dirinya. Senyumnya yang cantik menawan itu ibarat hunusan pedang pada jantungnya. Semakin indah senyumnya semakin sakit dan besar lukanya. Tutur katanya yang lembut itu, ibarat busur panah yang pasti terarah menuju muara hatinya. Setiap kata yang terucap dari mulutnya semakin menambah perih lukanya. Umi ibarat tengah bermain sandiwara. Dan aktingnya sangatlah luar biasa. Semua sandiwaranya tampak nyata namun sesungguhnya semua hanya bualan. Kebohongan semata. Siapa yang akan menyangka.
Ada yang telah hilang dari jiwa wanita paruh baya itu. Permata pada jiwanya telah hilang. Permata jiwa itu bernama cinta. Permata yang dalam buku - buku sastra mengubah dunia menjadi begitu mempesona, menjadikan setiap hela nafas begitu berharga, setiap detiknya begitu penuh makna. Setiap goresan kisahnya penuh warna ibarat pelangi, nikmatnya penuh rasa, terkadang manis dengan sedikit canda, pahit dan menangis dengan pertikaian – pertikaian kecil. Atau terkadang hambar dengan hanya diam sejuta bahasa.
Cinta Umi telah mati, lenyap bersama wisudanya dari Unversitas Indonesia. Cintanya telah hilang, pergi bersama makhluk bernama Irfan Syahreza. Orang yang pertama Umi temui dilobi gedung Rektorat. Orang yang pertama Umi kenal dikampus. Orang yang menegur dan mengajak Umi bicara saat wawancara beasiswa. Orang yang mengisi hari - harinya dengan sejuta cerita yang tak mungkin Umi lupa. Meski ajal didepan matanya pun Umi tak mungkin lupa. Irfan Syahreza mahasiswa asal kota pahlawan, Surabaya. Berparas manis, mata sedikit sipit, kulit sawo matang, tubuh yang agak berisi, tinggi kurang lebih 173 cm. Irfan sosok yang baik juga religus. Rekan Umi di BEM FK, KAMMI,  juga rekan dalam sebuah komunitas pecinta anak jalanan di Jakarta.
Banyak kisah dalam perjalanan hidupnya telah Umi ukir bersama Irfan. Ya, bersama lelaki itu. Empat tahun kuliah dan berbagai kegiatannya hampir semua adalah bersama Irfan. Hingga tanpa Umi sadari ia telah jatuh hati pada lelaki itu. Tanpa pernah sempat ia ungkapkan perasaannya itu. Ia mencintai Irfan dalam kesehariannya, mencintai Irfan dengan caranya, dalam diam namun sangatlah dalam. Di dinding memorinya Irfan adalah goresan kaligrafi indah dan manis yang tak mungkin pernah bisa untuk ia hapus. Dalam relung jiwanya gelora rasa cintanya pada Irfan adalah udara yang menjadikannya ingin hidup berjuta tahun meski ruh telah terpisah dari raga lemahnya. Irfan, Irfan, Irfan dan Irfan. Permata jiwa Tiara Payumi. Irfan satu – satunya tempat Umi bermanja, berkeluh kesah, bercanda ria. Dalam hidup Umi, Irfan adalah sosok malaikat.
Oh, malaikat. Sungguh malaikat. Bersayap putih, berbaik hati, berbudi tinggi. Namun semua kisah malaikat baik hati itu harus Umi kubur dalam, harus Umi paksa untuk bunuh diri saat wisudanya . Sakit dan menyiksa diri namun itu harus ia lakukan. Malaikat baik hati itu pergi dengan sejuta kenangan yang ia buat dan tinggalkan begitu saja tanpa bertuan. Malaikat bersayap putih itu terbang tinggi jauh meninggalkan Umi seoang diri.
Saat wisuda, orang tua Irfan ternyata telah menyiapkan seorang wanita untuk pendamping hidup Irfan. Wanita itu cantik, Aida kalau tidak salah namanya. Usianya 3 tahun lebih muda dari Umi. Wanita itu pilihan orang tua Irfan dan mau tak mau Irfan menuruti kemauan orang tuanya itu. Jelas ini membuat Umi bersedih hati. Ada asa menyelinap pada diri Umi saat pertemuan dengan orang tua Irfan dan Aida diwisuda waktu itu. Perasaan hancur, putus asa dan merana. Bunga cinta yang Umi rawat dengan baiknya itu harus layu dan mati. Permata jiwa, penyemangat hidupnya itu ternyata semu, permata itu kepunyaan orang lain. Mau tak mau dan harus mau, Umi melepas permata jiwanya itu. Malaikat bersayap putih itu harus ia relakan terbang tinggi dengan seorang bidadari yang bukan dirinya. Luka menganga itu tertinggal dalam batin dan jiwa Umi. Luka kehilangan permata jiwa. Luka yang mengahantarkannya pada kehidupan penuh sandiwara ini.  Tersenyum manis, padahal jiwanya menangis. Bertutur lembut meski hatinya terhanyut dalam  kubangan luka yang penuh nestapa.
Bodoh, itulah pikiran yang setiap detik menghantui Umi. Mengharap seseorang yang pergi dan tak akan pernah kembali. Memupuk rasa yang tak akan pernah terungkap, membiarkan bunga dihatinya tetap tumbuh dan merekah seorang diri lalu melayu dan gugur tanpa seorang pun yang pernah tau keberadaannya. Luka dalam dan perih itu adalah konsekuensi yang harus Umi rasa. Luka menganga itu masih terbuka lebar. Keping rindu untuk malaikat bersayap putih itu masih lekat disetiap desah nafasnya, masih enggan pergi dari relung jiwanya. Keping rindu teruntuk malaikat terindah dalam hidupnya akan selalu ada, meski kelak ajal menjemputnya, memisahkan raga dari  ruhnya. Keping rindu itu masih akan tetap ada dan terjaga. Keping rindu teruntuk makhluk teristimewa Tuhan, Irfan Syahreza yang berada dibelahan dunia sana bernama Surabaya.



2 komentar:

  1. terkadang penantian itu harus di ucapkan, bila semuanya memang sudah siap,
    :)

    BalasHapus

tinggalkan jejakmu, ^^..