Jumat, 25 Juli 2014
Rabu, 23 April 2014
Aku Belajar
Aku belajar tentang sebuah kerelaan dari kamu yang melepas dia dengan seulas senyum yang begitu penuh kesejukkan.
Aku belajar tentang sebuah keikhlasan dari tatap matamu yang begitu teduh mengisyaratkan besarnya perasaanmu untuk dia namun tetap meninggalkan ia pergi meski itu bukan yang kamu inginkan.
Aku belajar tentang sebuah keyakinan, membebaskan ruang yang pernah sengaja kamu dan dia cipta bernama perasaan.
Aku belajar tentang kepercayaann pada cara kamu dan dia menghapus pertemuan yang pernah dijanjikan.
Aku belajar tentang rindu begitu besar, begitu kuat namun tak harus tersampaikan.
Selasa, 15 April 2014
Pertemuan
Aku bertemu kamu dipersimpangan jalan itu tahun lalu.
Kamu tahu pasti kala itu aku hanya seorang gadis kecil yang tak cantik, tak menarik apalagi lucu.
Satu yang ku punya, 'lugu' katamu.
Kamu menghampiriku, bertanya namaku, bercerita segala hal tentang dirimu tapi aku hanya bisu.
Kamu mendekatiku, duduk tepat disampingku,kesekian kalinya aku masih membatu.
Kamu tetap setia mencairkan kebekuanku, yang entah akan berakhir kapan, bahkan waktu pun mungkin tak tahu.
Sudah satu bulan sejak awal pertemuan itu.
Kamu masih tetap saja tak bosan menghampiriku, padahal aku hanya diam atas setiap katamu.
Aku mengacuhkan kamu, tak peduli akan hadirnya dirimu. Aku tak pernah menjawab tanyamu. Sudah yang kesekian, tapi aku tak menggubrisnya meski hanya satu.
Senin, 14 April 2014
Mensyukuri April
Selamat April
Kamu yang tatap matanya selalu teduh, yang suaranya selalu membuat jiwaku luruh bergegaslah pergi menjauh.
Selamat April
Lupakan bahwa kita pernah saling bertegur sapa, saling mengenal nama, saling berjumpa untuk bercerita segala hal dan entahlah, bersama di sebuah ruang hanya berdua dalam waktu yang lama.
Selamat April
Lupakan bahwa kita pernah dengan sengaja, penuh kerelaan menyisakan ruang kecil bernama perasaan yang kita janjikan untuk sebuah penantian yang entah sampai kapan waktunya.
Selamat April
Lupakan bahwa kita pernah menautkan dua keping hati, merajut kenangan dalam kehampaan yang menjelma bahagia seolah waktu tidak akan pernah berlalu pergi, akan tetap sama.
Selamat April
Kamu, lupakan saja cerita tentang kita, bukan aku tak mau lagi menunggu, bukan pula aku tak lagi percaya pada janji yang pernah kita ucap ditengah gelap malam bertabur bintang waktu itu.
Selamat April
Kamu dan aku sangat mungkin tak akan pernah menjadi kita.
Maka, belajarlah tentang kerelaan karena ia akan mengantar kita pada bahagia yang sebenarnya.
Kerelaan akan menuntun kita pada realita kebahagian yang tak selalu berakhir pada aku dan kamu menjadi kita , ia akan menunjukan jalan bahagia dengan caranya.
Selamat April, ikhlaslah.
Bukan karena kita tak lagi punya alasan untuk sesekali waktu bertegur sapa, dan mengatur jumpa lalu duduk berdua berlama-lama.
Bukan pula karena kita menyerah pada kehidupan yang tak lagi mengizinkan kita untuk saling menatap dikejauhan dan saling merindukan.
Selamat April
Selamat tinggal, selamat jalan. Terima kasih untuk setiap detik yang pernah kita jalani dalam kebersamaan, terima kasih pernah menyulap kehampaan menjadi bahagia meski untuk semantara waktu saja. Selamat jalan, lupakan aku segera tapi jangan lupa menjalani april dengan penuh kesyukuran. Mensyukuri april yang akan menuntun kita menuju sejatinya kebahagiaan.
Rabu, 09 April 2014
Aku Tak Akan
aku tak akan berharap kamu masih bersamaku, kini kita terpisah jauh
aku juga tak akan pernah memintamu menunggu
aku tak akan lagi melarangmu bertindak sesuka hatimu
aku tak akan lagi menatapmu dari kejauhan atau menatapmu dari pixel terbatas yang ku punya sesekali waktu
aku tak akan lagi menyimpan gambarmu, bahkan sekedar dimemoriku
aku tak akan lagi bicara padamu, meski hanya sekedar bertanya kabar seperti dulu
aku juga tak akan lagi meminta angin untuk sekedar menyapamu, menyampaikan rinduku padamu
aku tak akan lagi biarkan diri ini terjerat lagi dalam ilusi hampa tentangmu
April
April
Biarkan tetap menjadi sebuah keyakinan
April
Biarkan tetap menjadi sebuah perjalanan
April
Biarkan tetap menjadi sebuah percarian
April
Biarkan tetap menjadi sebuah pembelajaran
April
Biarkan tetap menjadi sebuah penantian
April
Biarkan tetap menjadi kerinduan
April
Biarkan tetap menjadi sebuah harapan
April
Biarkan.....
Selasa, 08 April 2014
Senin, 24 Maret 2014
Bumi dan Hujan
Selamat jalan...
Semoga kita segera dipertemukan..
April adalah waktu bagi bumi mengucap salam perpisahan pada hujan, kembali pada detik - detik penantian yang panjang.
Menit - menit, hari demi hari, bulan ke bulan akan ia habiskan dalam penantian.
Dalam kekeringan.
Dalam kehampaan.
Dalam kesepian.
Dalam kesendirian.
Tanpa pernah mengeluh menyalahkan keadaan.
Tanpa sekali pun bertanya harus sampai kapan ia dalam penantian.
Tanpa pernah meragu, tanpa sekali pun lelah, ia yakin hujan akan datang.
Hujan akan kembali pulang.
Hujan tak mungkin lupa, hujan pasti datang.
Bumi tetap setia menanti datangnya hujan.
Selamat jalan...
Semoga kita segera dipertemukan..
Penantian itu begitu menawan.
Dihiasi ketulusan.
Dibangun atas sebuah kerelaan.
Didasari ikhlasnya penerimaan.
Dipenuhi dan disesaki keyakinan.
Selamat jalan...
Semoga kita segera dipertemukan..
April begitu fantastis mengisahkan cerita perpisahan.
Penantian bumi pada pujaan hatinya, hujan.
Setiap detiknya begitu penuh magis, meski tanpa tangis tapi romantis, begitu mengesankan.
Selamat jalan...
Semoga kita segera dipertemukan..
Senin, 17 Maret 2014
Menatap Kamu
Menatap kamu dari kejauhan sesering mungkin beberapa tahun lalu
Menatap kamu lebih dekat beberapa kali, setahun lalu
Menatap kamu dari piksel terbatas yang ku punya beberapa bulan lalu
Menatap kamu..
Beberapa tahun lalu,
Setahun lalu,
Beberapa bulan lalu...
Tak ada lagi gambar wajahmu,
Senyum yang dulu selalu menghias setiap waktuku..
Tak ada lagi tatap taduh matamu,
Hari ini, memoriku tentang kamu hanyalah residu..
Minggu, 16 Maret 2014
Perlu Bicara
Di matamu, aku tahu aku telah tiada
Di matamu, bayangku pun tak lagi ada...
Terakhir kali kita berjumpa,
Tak lagi ku dengar sekata pun kau bersuara
Tak ada canda atau sekedar saling sapa
Terakhir kali kita berjumpa
Seulas senyum yang selalu kutemui itu sirna
Wajahmu datar, tanpa ekspresi, tanpa rona
Matamu redup tanpa cahaya...
Terakhir kali kita berjumpa
Meski kita berdua, namun sepi mendera
Meski kita bersama, sendiri adalah yang kita rasa...
Tak bisakah kita putar ulang waktu saja?
Terakhir kali kita berjumpa...
Tak bisakah kita terlebih dahulu saling bicara?
Untuk sekedar berkata selamat berpisah, semoga bahagia...
Kita perlu bicara,
Jangan pergi begitu saja tanpa berita....
Aku tak tahu, setelah ini harus apa...
Setelah ini, bagaimana...
Jengah, aku mulai mati rasa....
Jumat, 28 Februari 2014
Gelap, Tanpa Cahaya
Ruang itu gelap, tanpa cahaya
Atau, kalau pun ada cahaya hanya remang saja
Samar tak jelas, dari arah jendela
Dulu, tempat ini menjadi tepat yang sangat aku suka
Aku ingat, ruang ini dipenuhi coretan pensil dan cat warna
Bintang dan burung-burung kecil menghias langitnya
Dan ada sebuah kotak tua disalah satu sisinya
Ruang itu, pernah dihias warna pelangi yang mempesona
Dipenuhi semerbak aroma dan kelopak bunga
Penuh dengan senyum, canda, rona bahagia
Hanya saja,
Tak jarang pula ia dihiasi rintik hujan dibalik kaca jendela
Ruang itu pernah dibanjiri air mata si gadis manja
Disesaki keluh kesahnya
Berselimut kehampaan kala sang gadis bermuram durja
Dulu, diruang ini, hampir semua waktuku kuhabiskan
Hanya saja, kini aku tak kuat berlama - lama
Dadaku sesak, ruangan ini entah berapa lama tak pernah lagi ku jamah
Gelap, tanpa cahaya.
Jumat, 03 Januari 2014
Beda
Aku, kamu, dia dan mereka tak sama. Seribu cara menyatukan pun tak akan persis sama. Bahkan jika dipaksakan untuk sama pun tiada jaminan akan benar sama. Pasti ada beda.
Ibarat warna - warni pelangi menghias angkasa selepas hujan, indah dengan warnanya yang tak sama bukan? atau ibarat sejuta bintang dilangit malam, mungkin tampak sama tapi bukan kah mereka berbeda?
Beda, namun tetap indah bukan? Seharusnya begitulah beda antara kita juga, indah dengan sendirinya dan bukan menjadi masalah yang mencipta dinding pemisah yang begitu tegas antara kita.
Aku ingin senantiasa membersamaimu tapi mengapa ketika jalan yang kita tempuh berbeda batas itu terasa begitu nyata . Tak bisa kah batas itu kita lupakan sejenak? Bisa kah kita tetap bersama? Tak bisa kah kau tetap disini menyediakan bahumu sebagai tempat lelahku bersandar, atau tak bisa kah sekali saja kau genggam erat lagi jemariku?
Beda, ada kah yang salah akan hadirnya?
Metamorfosa
Metamorfosa.
Siap kah?
Waktu tidur yang harus dikurangi.
Pola makan yang harus diperbaiki.
Pola pikir dan pola kerja yang harus segera diluruskan
agar tak terjebak dalam rutinitas tunda dulu, ah nanti.
Semangat diri yang harus terus dipupuk agar tetap tinggi.
Metamorfosa.
Haruskah?
Ketika yang lain tetap lena dengan kebiasaan lamanya kenapa harus repot merubah diri dengan metamorfosa?
Ketika yang lain lebih suka sekedar retorika, kenapa harus sibuk metamorfosa menuju kerja nyata?
Ketika yang lain biasa - biasa saja, kenapa harus memaksakan diri melampaui batas kemampuan?
Metamorfosa.
Jika ada berkata tak penting, mungkin benar.
Masih banyak hal lain yang perlu dipikirkan dari sekedar metamorfosa yang arti katanya pun tak semua tahu.
Ketika ada yang berkata hidup sudah susah, tanpa dicari masalah sudah ada jadi tak perlu lelah mengurusi metamorfosa,ini juga mungkin benar.
Rabu, 01 Januari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)












