Rabu, 02 Januari 2013

antologi perdanaku

ini antologi pertamaku, 
pertama kali ikut event dan pertama kali juga ada karyaku yang dimuat terbit :D
tahu info jam 12 malam dan deadlinenya malam berikutnya...
kurang dari 24 jam, otak yang tengah kacau dan hati yang tengah kalut, semangat yang tenga kusut, dipaksa nulis...
ada satu orang yang tahu persis bagaimana terciptanya cerpen ini, dari pagi sampai malam ditemaninya... haha
selamat membaca....


"Biar Ku Simpan Gambarmu"
 ~Ebby Azahhzahh~


Hujan tak kunjung reda, udara dingin masih asyik menggoda pori pada tubuh lemah dengan mata yang agak sayu. Gemericik air yang jatuh dari nirwana bernyanyi sendu. Mengisi ruang  pada rongga telinga yang sedari tadi bermain bersama sepi. Kelopak bunga diluar jendela kini mulai merekah tak lagi layu, menghibur mata yang sedari tadi meraba sekitar ruangan dan luar jendela dengan tatapan kosong tak tentu arah. Di seberang jalan tampak seekor burung  yang terbang bergegas  menuju sarangnya dipohon mangga dekat pagar rumah  tanpa diiringi kicau merdu, karena kicaunya terbias melodi dan alunan nada rintik tangisan bidadari dan para ratu dari pucuk nirwana.
Pori ku kini kembali menganga, gigiku beradu menimbulkan sensasi nada tanpa aturan pertanda bahwa cuaca memang tengah tak bersahabat karena terlampau dingin.  Kembali ku seruput secangkir capuchino yang ada digenggamanku. Ah, rasanya sudah tak begitu nikmat. Capuchino ini tak lagi hangat. Padahal biasanya terasa begitu lezat dan tubuh akan terasa kembali penuh semangat setelah meminumnya. Mungkin kali ini berbeda. Kulepas gelas digenggamanku dan kuletakkan ia diatas meja tak jauh dari tempatku termenung. Ku ambil buku diaryku dari dalam laci meja. Ku bawa menuju tempat tidur. Ku ambil pulpen yang terselip didalamnya. Ku buka diary itu. Diary ini adalah saksi bisu perjalanan hidupku. Setiap minggu aku selalu menuliskan kisah dan keluh kesahku didalamnya. Hingga kini hanya tersisa sedikit sekali kertas dan ruang kosong untukku mengoreskan pena.
Ku baca setiap lembaran diary ku. Sesekali aku sempat tertawa geli ketika membacanya. Terlebih saat aku sampai pada sebuah halaman bertanggalkan 3 agustus 2010. Disana bertuliskan,
“Dear diary,
Tuhan terimakasih , hari ini aku dan Andi bertemu. Tak kusangka setelah  sempat berpisah 3 tahun saat Sekolah Menengah Pertama karena ia ikut ayahnya pindah ke Jakarta hari ini aku dan dia kembali berjumpa. Di taman kota, saat aku tengah melukis bersama Tania dan  Siwi.
Oh Andi, andai kamu jadi pangeran dan nanti suamiku”
Aku tak mampu menahan tawa saat membacanya. Aku tertawa begitu lepas.
 Sampai akhirnya aku tersadar dari tawa itu karena dering ponselku. Di sana ada sebuah pesan singkat dari adik tingkatku, Anisa.
“Selamat sore, kak Dina. Pameran lukisan disanggar Buana seminggu lagi. Bagaimana kak, bisa kah kakak membimbing kami supaya persiapannya lebih matang, dan acara sukses. Kak, Dina besok sibuk tidak??”
“Sore Nisa, kakak siap membantu. Selalu siap, selagi masih dibutuhkan. J
besok kakak tidak sibuk, ada apa nis?? “, jawabku.
“Nisa dan anak-anak sanggar Buana besok mau kumpul dialun-alun membahas pameran. Kalau kak Dina ada waktu maukah mendampingi kami??”
“Tentu saja nis, kakak pasti hadir. Acara kumpulnya jam berapa??”
“Jam 3 sore, di alun-alun utara. Nisa mohon, kakak hadir ya?? Ya ya ya?? ;)”
“Oke, tunggu kakak ya nis. Tapi maaf ya,
mungkin kakak agak telat soalnya besok juga ada jadwal lukis sama mbak Tania dan Siwi di ankringan dekat Malioboro. Tapi, kakak janji pasti datang
…. :)”
“Iya kak, kami tunggu ya. Terimakasih”
“Iya, sama sama nis, J
            Wah, besok akan sibuk dan menyenangkan, gumamku. Melukis bersama Tania dan Siwi selalu menjadi hal paling membahagiakan. Menggores kuas diatas kanvas. Melukis pelangi yang penuh warna, awan yang begitu menyejukkan jiwa, berteman suasana dan alam Yogyakarta yang begitu mempesona dengan segala kesederhanaannya. Di tambah dengan bertemu anak-anak sanggar Buana saat sore harinya, pasti esok akan sangat menyenangkan. Tak sabar rasanya ingin bertemu, menikmati, memaknai setiap detik berharga dihari esok. Melukis memang hobiku, aku telah banyak mengikuti dan menjuarai lomba melukis. Aku memulai hobiku ini sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Jiwa seniku mengalir dari ayahku. Beliau adalah seorang seniman serba bisa asli Yogya.
            Kini aku kembali dalam sepiku, berteman derai hujan yang tak kunjung reda diluar jendela. Kembali kubuka dan baca diaryku. Ku buka lembar berikutnya, bertanggal 17 agustus 2010.
“Dear diary,
Hari ini ulang tahun kemerdekaan RI sekaligus kemerdekaanku. Andi memintaku menjadi pacarnya. Oh Tuhan, semoga apa yang Andi katakana tadi bukan mimpi. Aku dan Andi “PACARAN”, semoga tetap begini selamanya sampai terpisah oleh mati..aamiin.. ANDI I LOVE YOU, :*…”
            Hmmm, Andi. Apa kabarnya ya dia sekarang, lelaki itu. Gumamku lirih. Setahun lalu aku memutuskan untuk berpisah. Ku pikir itu yang terbaik untukku. Aku merasa berat jika harus terus menjalani hubungan yang sebenarnya hanya aku saya yang menginginkan keberadaannya. 2 tahun sudah hubungan itu terjalin selama kami duduk di bangku SMA. Tapi, tak ku sangka ternyata semua yang kami jalani itu hanyalah sebuah sandiwara. Andi tak benar-benar menaruh hati padaku, semua yang ia beri dan lakukan untuku hanya kebohongan dan tipu daya semata. Andi ternyata menjalin cinta dengan Maria, seorang mahasiswi sastra Sanata Dharma yang ia kenal via twitter, lalu kopi darat dan akhirnya menjadi sepasang kakasih.
            Awalnya aku tak menaruh curiga saat Andi mulai jarang memperhatikanku. Malam minggu tak lagi sering berkunjung kerumah untuk belajar bersama atau sekadar bersenda gurau. Aku tak pernah menaruh curiga. Sampai pada suatu malam aku, Tania, dan Siwi pergi ke alun-alun Lor atau lebih dikenal dengan alun-alaun utara. Lengkap dengan peralatan melukis. Kanvas, kuas, cat dan perlengkapan lainnya yang kumasukkan kedalam ranselku. Disana kami berencana melukis langit malam Yogyakarta. Pasti indah. Langit purnama, sejuta bintang. Namun ternyata langit malam dialun-alun utara tak seindah apa yang ada dibenakku. Malam itu memang purnama, bintang pun berkelap-kelip menatap mesra para penghuni kolong langit. Tapi bagiku malam itu bagiku terasa begitu kelabu. Aku melihat Andi tengah bersama seorang wanita disebuah ankringan makan. Bercanda mesra. Dan tak lain wanita itu adalah Maria. Wanita cantik yang usianya lebih tua dariku dan juga Andi. Aku menghampiri mereka, tampak raut kemarahan diwajah Andi karena ia merasa terganggu oleh kehadiranku. “Dina?? Sedang apa kamu disini??” tanyanya agak gagap dengan nada sedikit membentak.
“aaaaku, (refleks aku menampar wajah Andi)”
apa yang kamu kan pada pacarku, teriak Maria”
aaa, pacar?? Makan tuh pacar (aku mendorong Maria, dan membuat Andi marah lalu balas menampar pipi kiriku)”
Dengan setengah berlari, aku pergi meninggalkan Andi dan Maria. Segera ku ajak Tania dan Siwi pulang. “aku gak mau disini”, ucapku sembari tersedu.
“sabar dan tenang Din”, ucap Tania dan Maria sembari berjalan mengikutiku.
            Esok harinya disekolah, Andi mohon maaf kepadaku. Ia membawakan coklat dengan kismis kurma kesukaanku sebagai tanda maaf. Tapi aku segera meraih coklat itu dan melemparnya ke wajah Andi dihadapan siswa lain disekolah dan barkata pada Andi “Kita Putus!!”. Puas rasanya bisa melakukannya pada lelaki itu. Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kata teman-temanku ia pindah lagi ke Jakarta menyusul ayahnya.
Kini hariku tak akan pernah diisi lagi oleh sosok lelaki bernama Andi. Kini aku akan  melakukan apa yang kusuka. Bernafas, berkarya, melukis dan traveling. Semua bebas ku lakukan. Ini caraku menikmati hidup tanpa Andi. Lelaki yang pernah menggores luka menganga didasar hati dan jiwaku.
Lalu ku tutup diary ku. Ku ajakku tubuhku bangkit dan kembali menatap keluar jendela. Kini hujan tak terlalu deras, yang ada hanya gerimis kecil. Di ufuk senja, ada kilatan warna yang indah dan selalu ku nanti setelah hujan mereda bernama pelangi. Indah ronanya, menyejukkan mata. Menghantar jiwa pada ketenangan yang luar biasa dahsyatnya. Badai itu telah berlalu. Tak ada lagi sakit hati itu, aku bahagia pernah mengenalmu Andi. Kau adalah hujan badai  yang menghantarkanku pada manisnya pelangi. Sebuah melodi tak beraturan yang menghantarkanku pada simfoni merdu dibatas waktu. Jadi, biar kusimpan gambarmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu, ^^..