ini antologi pertamaku,
pertama kali ikut event dan pertama kali juga ada karyaku yang dimuat terbit :D
tahu info jam 12 malam dan deadlinenya malam berikutnya...
tahu info jam 12 malam dan deadlinenya malam berikutnya...
kurang dari 24 jam, otak yang tengah kacau dan hati yang tengah kalut, semangat yang tenga kusut, dipaksa nulis...
ada satu orang yang tahu persis bagaimana terciptanya cerpen ini, dari pagi sampai malam ditemaninya... haha
selamat membaca....
selamat membaca....
"Biar Ku Simpan Gambarmu"
~Ebby Azahhzahh~
Hujan
tak kunjung reda, udara dingin masih asyik menggoda pori pada tubuh lemah
dengan mata yang agak sayu. Gemericik air yang jatuh dari nirwana bernyanyi
sendu. Mengisi ruang pada rongga telinga
yang sedari tadi bermain bersama sepi. Kelopak bunga diluar jendela kini mulai
merekah tak lagi layu, menghibur mata yang sedari tadi meraba sekitar ruangan
dan luar jendela dengan tatapan kosong tak tentu arah. Di seberang jalan tampak
seekor burung yang terbang bergegas menuju sarangnya dipohon mangga dekat pagar
rumah tanpa diiringi kicau merdu, karena
kicaunya terbias melodi dan alunan nada rintik tangisan bidadari dan para ratu
dari pucuk nirwana.
Pori
ku kini kembali menganga, gigiku beradu menimbulkan sensasi nada tanpa aturan
pertanda bahwa cuaca memang tengah tak bersahabat karena terlampau dingin. Kembali ku seruput secangkir capuchino yang
ada digenggamanku. Ah, rasanya sudah tak begitu nikmat. Capuchino ini tak lagi
hangat. Padahal biasanya terasa begitu lezat dan tubuh akan terasa kembali
penuh semangat setelah meminumnya. Mungkin kali ini berbeda. Kulepas gelas
digenggamanku dan kuletakkan ia diatas meja tak jauh dari tempatku termenung.
Ku ambil buku diaryku dari dalam laci meja. Ku bawa menuju tempat tidur. Ku
ambil pulpen yang terselip didalamnya. Ku buka diary itu. Diary ini adalah
saksi bisu perjalanan hidupku. Setiap minggu aku selalu menuliskan kisah dan
keluh kesahku didalamnya. Hingga kini hanya tersisa sedikit sekali kertas dan
ruang kosong untukku mengoreskan pena.
Ku
baca setiap lembaran diary ku. Sesekali aku sempat tertawa geli ketika
membacanya. Terlebih saat aku sampai pada sebuah halaman bertanggalkan 3
agustus 2010. Disana bertuliskan,
“Dear
diary,
Tuhan terimakasih , hari ini aku dan Andi bertemu. Tak kusangka setelah sempat berpisah 3 tahun saat Sekolah Menengah Pertama karena ia ikut ayahnya pindah ke Jakarta hari ini aku dan dia kembali berjumpa. Di taman kota, saat aku tengah melukis bersama Tania dan Siwi.
Oh Andi, andai kamu jadi pangeran dan nanti suamiku”
Tuhan terimakasih , hari ini aku dan Andi bertemu. Tak kusangka setelah sempat berpisah 3 tahun saat Sekolah Menengah Pertama karena ia ikut ayahnya pindah ke Jakarta hari ini aku dan dia kembali berjumpa. Di taman kota, saat aku tengah melukis bersama Tania dan Siwi.
Oh Andi, andai kamu jadi pangeran dan nanti suamiku”
Aku tak mampu menahan
tawa saat membacanya. Aku tertawa begitu lepas.
Sampai akhirnya aku tersadar dari tawa itu karena dering ponselku. Di sana ada sebuah pesan singkat dari adik tingkatku, Anisa.
Sampai akhirnya aku tersadar dari tawa itu karena dering ponselku. Di sana ada sebuah pesan singkat dari adik tingkatku, Anisa.
“Selamat
sore, kak Dina. Pameran lukisan disanggar Buana seminggu lagi. Bagaimana kak,
bisa kah kakak membimbing kami supaya persiapannya lebih matang, dan acara
sukses. Kak, Dina besok sibuk tidak??”
“Sore
Nisa, kakak siap membantu. Selalu siap, selagi masih dibutuhkan. J
besok kakak tidak sibuk, ada apa nis?? “, jawabku.
besok kakak tidak sibuk, ada apa nis?? “, jawabku.
“Nisa
dan anak-anak sanggar Buana besok mau kumpul dialun-alun membahas pameran.
Kalau kak Dina ada waktu maukah mendampingi kami??”
“Tentu
saja nis, kakak pasti hadir. Acara kumpulnya jam berapa??”
“Jam
3 sore, di alun-alun utara. Nisa mohon, kakak hadir ya?? Ya ya ya?? ;)”
“Oke,
tunggu kakak ya nis. Tapi maaf ya,
mungkin kakak agak telat soalnya besok juga ada jadwal lukis sama mbak Tania dan Siwi di ankringan dekat Malioboro. Tapi, kakak janji pasti datang…. :)”
mungkin kakak agak telat soalnya besok juga ada jadwal lukis sama mbak Tania dan Siwi di ankringan dekat Malioboro. Tapi, kakak janji pasti datang…. :)”
“Iya
kak, kami tunggu ya. Terimakasih”
“Iya,
sama sama nis, J”
Wah, besok akan sibuk dan menyenangkan, gumamku. Melukis
bersama Tania dan Siwi selalu menjadi hal paling membahagiakan. Menggores kuas
diatas kanvas. Melukis pelangi yang penuh warna, awan yang begitu menyejukkan
jiwa, berteman suasana dan alam Yogyakarta yang begitu mempesona dengan segala
kesederhanaannya. Di tambah dengan bertemu anak-anak sanggar Buana saat sore
harinya, pasti esok akan sangat menyenangkan. Tak sabar rasanya ingin bertemu,
menikmati, memaknai setiap detik berharga dihari esok. Melukis memang hobiku,
aku telah banyak mengikuti dan menjuarai lomba melukis. Aku memulai hobiku ini
sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Jiwa seniku mengalir dari
ayahku. Beliau adalah seorang seniman serba bisa asli Yogya.
Kini aku kembali dalam sepiku, berteman derai hujan yang
tak kunjung reda diluar jendela. Kembali kubuka dan baca diaryku. Ku buka
lembar berikutnya, bertanggal 17 agustus 2010.
“Dear
diary,
Hari ini ulang tahun kemerdekaan RI sekaligus kemerdekaanku. Andi memintaku menjadi pacarnya. Oh Tuhan, semoga apa yang Andi katakana tadi bukan mimpi. Aku dan Andi “PACARAN”, semoga tetap begini selamanya sampai terpisah oleh mati..aamiin.. ANDI I LOVE YOU, :*…”
Hari ini ulang tahun kemerdekaan RI sekaligus kemerdekaanku. Andi memintaku menjadi pacarnya. Oh Tuhan, semoga apa yang Andi katakana tadi bukan mimpi. Aku dan Andi “PACARAN”, semoga tetap begini selamanya sampai terpisah oleh mati..aamiin.. ANDI I LOVE YOU, :*…”
Hmmm, Andi. Apa kabarnya ya dia sekarang, lelaki itu. Gumamku
lirih. Setahun lalu aku memutuskan untuk berpisah. Ku pikir itu yang terbaik
untukku. Aku merasa berat jika harus terus menjalani hubungan yang sebenarnya
hanya aku saya yang menginginkan keberadaannya. 2 tahun sudah hubungan itu
terjalin selama kami duduk di bangku SMA. Tapi, tak ku sangka ternyata semua
yang kami jalani itu hanyalah sebuah sandiwara. Andi tak benar-benar menaruh
hati padaku, semua yang ia beri dan lakukan untuku hanya kebohongan dan tipu
daya semata. Andi ternyata menjalin cinta dengan Maria, seorang mahasiswi
sastra Sanata Dharma yang ia kenal via twitter, lalu kopi darat dan akhirnya
menjadi sepasang kakasih.
Awalnya aku tak menaruh curiga saat Andi mulai jarang
memperhatikanku. Malam minggu tak lagi sering berkunjung kerumah untuk belajar
bersama atau sekadar bersenda gurau. Aku tak pernah menaruh curiga. Sampai pada
suatu malam aku, Tania, dan Siwi pergi ke alun-alun Lor atau lebih dikenal
dengan alun-alaun utara. Lengkap dengan peralatan melukis. Kanvas, kuas, cat
dan perlengkapan lainnya yang kumasukkan kedalam ranselku. Disana kami
berencana melukis langit malam Yogyakarta. Pasti indah. Langit purnama, sejuta
bintang. Namun ternyata langit malam dialun-alun utara tak seindah apa yang ada
dibenakku. Malam itu memang purnama, bintang pun berkelap-kelip menatap mesra
para penghuni kolong langit. Tapi bagiku malam itu bagiku terasa begitu kelabu.
Aku melihat Andi tengah bersama seorang wanita disebuah ankringan makan.
Bercanda mesra. Dan tak lain wanita itu adalah Maria. Wanita cantik yang
usianya lebih tua dariku dan juga Andi. Aku menghampiri mereka, tampak raut
kemarahan diwajah Andi karena ia merasa terganggu oleh kehadiranku. “Dina?? Sedang apa kamu disini??”
tanyanya agak gagap dengan nada sedikit membentak.
“aaaaku, (refleks aku menampar wajah Andi)”
“apa yang kamu kan pada pacarku, teriak Maria”
“aaa, pacar?? Makan tuh pacar (aku mendorong Maria, dan membuat Andi marah lalu balas menampar pipi kiriku)”
Dengan setengah berlari, aku pergi meninggalkan Andi dan Maria. Segera ku ajak Tania dan Siwi pulang. “aku gak mau disini”, ucapku sembari tersedu.
“sabar dan tenang Din”, ucap Tania dan Maria sembari berjalan mengikutiku.
“aaaaku, (refleks aku menampar wajah Andi)”
“apa yang kamu kan pada pacarku, teriak Maria”
“aaa, pacar?? Makan tuh pacar (aku mendorong Maria, dan membuat Andi marah lalu balas menampar pipi kiriku)”
Dengan setengah berlari, aku pergi meninggalkan Andi dan Maria. Segera ku ajak Tania dan Siwi pulang. “aku gak mau disini”, ucapku sembari tersedu.
“sabar dan tenang Din”, ucap Tania dan Maria sembari berjalan mengikutiku.
Esok harinya disekolah, Andi mohon maaf kepadaku. Ia
membawakan coklat dengan kismis kurma kesukaanku sebagai tanda maaf. Tapi aku
segera meraih coklat itu dan melemparnya ke wajah Andi dihadapan siswa lain
disekolah dan barkata pada Andi “Kita Putus!!”. Puas rasanya bisa melakukannya
pada lelaki itu. Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihatnya. Kata
teman-temanku ia pindah lagi ke Jakarta menyusul ayahnya.
Kini
hariku tak akan pernah diisi lagi oleh sosok lelaki bernama Andi. Kini aku akan
melakukan apa yang kusuka. Bernafas,
berkarya, melukis dan traveling. Semua bebas ku lakukan. Ini caraku menikmati
hidup tanpa Andi. Lelaki yang pernah menggores luka menganga didasar hati dan
jiwaku.
Lalu
ku tutup diary ku. Ku ajakku tubuhku bangkit dan kembali menatap keluar
jendela. Kini hujan tak terlalu deras, yang ada hanya gerimis kecil. Di ufuk
senja, ada kilatan warna yang indah dan selalu ku nanti setelah hujan mereda
bernama pelangi. Indah ronanya, menyejukkan mata. Menghantar jiwa pada
ketenangan yang luar biasa dahsyatnya. Badai itu telah berlalu. Tak ada lagi
sakit hati itu, aku bahagia pernah mengenalmu Andi. Kau adalah hujan badai yang menghantarkanku pada manisnya pelangi. Sebuah
melodi tak beraturan yang menghantarkanku pada simfoni merdu dibatas waktu. Jadi,
biar kusimpan gambarmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
tinggalkan jejakmu, ^^..