Selasa, 19 November 2013

Harap


Ku harap aku punya daya menjabat tanganmu,
meletakkan jabatan itu tepat dikeningku.

Ku harap aku punya banyak perbendaharaan kata
yang dapat ku ucap saat kita berjumpa.

Ku harap aku punya cukup keberanian untuk menyapamu,
sekedar berkata 'Hai, apa kabar?'.

Ku harap aku punya cukup tenaga memalingkan wajahku dari menatap bumi yang ku pijak,
lalu mengalihkannya tepat dimatamu meski hanya sedetik saja.

Ternyata semua itu angan belaka.
Aku tak cukup kuat menjadikannya nyata.
Aku tak cukup tangguh.

Aku takut.
Aku malu.

Bahkan, menatap bayangmu dikejauhan pun aku tak kuasa.

NOVEMBER



November senantiasa berkelana dari satu masa menuju masa lainnya. Kali ini, November datang lagi. Tak ada yang berbeda. Ia sama. Ia masih setia dengan kebiasaan lamanya. Menemani hujan menemui tanah kemarau yang lama merindunya. Ia betah berlama - lama di sana. Entah pagi, siang, sore  atau pun malam ia tak peduli. Tetap menemani hujan mengusir kerontang di tanah itu.

Perlahan, tanah itu basah. Retakan tanah kerontang itu sirna. Tanah gersang itu, tak lagi nampak. Rinai hujan yang jatuh, mengubahnya. Tanah itu berubah wajah. Ia mulai ditumbuhi rerumputan hijau. Semakin hari rumput itu meninggi. Sampai akhirnya ditanah itu hadir juga ilalang . Tanah itu telah bermetamorfosa. Kini ia menjadi padang ilalang  menghijau yang nampak begitu indah mempesona.

November. Ia tak hanya tentang hujan atau juga ilalang. Tak hanya tentang metamorfosa lahan yang dilanda kemarau, tandus, kerontang. November, ku harap ia dapat menjadi aspirin bagiku. Pengobat bagi setiap sakitku. Manjadi mula bagi seribu langkahku. Menjadi pengingat dan penyemangat  saat datang jenuhku. Menjadi ramuan yang paling ampuh bagi setiap lukaku. Menjadi tempat bagi harap dan mimpiku menyata.