Senin, 31 Desember 2012

Wanita Hujan




“Saya yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang berbeda, Pita yang kemarin Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah Puspita yang bodoh, hanya demi seorang pria lantas mengorbankan segala kehidupannya. Sore itu saya menanti ia di persimpangan jalan, cinta saya padanya masih begitu besar. Saya masih enggan berpisah meski setiap hari ia hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan membentak saya, dihadapan putri kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya. Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini tidak sekolah karena demam. Jujur saja, saya sempat defresi saat saya tahu ternyata suami saya memiliki istri lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya saya tidak percaya dan tak peduli dengan celoteh tetangga dan teman – teman saya. Tapi pada akhirnya pil pahit itu harus saya telan juga. Suami saya memiliki wanita lain diluar istana kami yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu. Ada pesan mesra yang saya temukan di telepon genggamnya, setiap kali bicara ditelepon maka ia akan membentak saya, menyuruh saya diam. Dan yang paling mengejutkan adalah lipstick di kerah kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di dasinya. Padahal aku tak pernah memakai lipstick terlebih parfum. Aku tak pernah mengira ia akan setega itu padaku.  Hingga kemarin saya datang ke desa ini, berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya, mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.

2 komentar:

  1. subhanaallah,
    hidayah itu pasti datang.....
    jika memang besunguh-sungguh

    BalasHapus

tinggalkan jejakmu, ^^..