Wanita Hujan
Aku
bertemu ia disebuah persimpangan jalan saat hujan tengah deras mengguyur desa
Cicuruk, sebuah desa kecil dipinggiran kota Bogor. Wanita paruh baya dengan
mantel kulit berwarna hitam, payung berwarna marun. Anggun benar wanita itu
berjalan dan kemudian berhenti. Rambutnya yang panjang tergerai indah, parasnya
begitu menawan, kulit kuning langsat khas wanita Asia, namun saat ku dekati
tampak ada yang hilang pada dirinya. Matanya tampak sayu, senyumnya yang cantik
itu tampak dipaksakan.
“Assalaamu’alaaikum”, sapaku. “Wa’alaaikumsalaam, (sembari menarik nafas
panjang). Tampak ada beban begitu berat yang tengah sangganya. “Hujannya deras
sekali ya teh”, (ucapku mencoba mengawali pembicaraan). Wanita paruh baya itu
hanya berkata “ya”, sembari menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju akan
apa yang baru saja ku ucapkan, lalu kembali terdiam dan menatap seberang jalan.
Tatapannya tampak kosong, gelisah, ia seperti tengah mengharap kedatangan
seseorang.
Esok
harinya, seperti biasa aku pergi mengantar donat dan lemper buatan ibu untuk
dijajakan dikantin sekolah dan warung dipasar, lalu pergi menuju sebuah taman
kanak-kanak didesa sebelah bernama TK Al-Mukaromah. Sejak 2 tahun lalu aku
mengabdi sebagai tenaga pengajar di TK ini. Meski hanya dengan ijazah SLTA dan
keterampilan yang sangat minimalis, berkat kesungguhan niat dan semangat
mengabdi demi mencerdaskan generasi masa depan, tonggak kehidupan bangsa, sampai kini aku masih bertahan di TK
ini. Meski kadang jenuh dan lelah menderaku, tapi semua terasa sirna ketika ku
tatap wajah malaikat – malaikat kecil yang tiap harinya terus bertumbuh.
Malaikat – malaikat kecil yang senantiasa memanggilku bunda. Semua terasa sirna
ketika jemari - jemari kecil itu, menarik kerudungku, “Bunda, bunda, bunda”,
ada yang menangis, ada yang tersenyum, tertawa, loncat – loncat, mencoret
dinding dengan crayon, atau sibuk membersihkan ingus dengan kerah bajunya.
Ku
ambil kertas origami yang terserak dibawah meja, lalu ku bereskan tasku, dan
perlahan meninggalkan ruang kelas yang sudah sepi. Ku langkahkan kakiku menuju
depan kelas, dan benar saja disana ku temukan wanita bercadar hitam yang begitu
anggun tadi masih duduk menantiku. Ku dekati wanita itu, aku duduk tepat
disampingnya, diatas sebuah kursi kayu sepanjang 1, 5 meter ( persis seperti
kursinya abang- abang siomay). “Maaf teh, ada yang bisa saya bantu”, ucapku agak ragu. “Maaf, jikalau kedatangan
saya mengejutkan dek Iza. Kenalkan nama saya Puspita, Iza bisa panggil saya
Pita”, (ucap wanita itu sembari membuka cadarnya). “Subhanallah, cantik paras
wanita itu, tatapan matanya sangat hangat, senyumnya menggetarkan jiwa, memaksa
siapa pun yang melihatnya akan mengabarkan pada hati, ayo berbahagialah”.
“Iza
ingat saya?”, aku menggeleng. “Kemarin, waktu hujan dipersimpangan jalan?? Itu
saya za”. “itu teteh??” “ya, itu saya.” Andai ada sebuah cermin saat ini, dan
aku berkaca mungkin wajahku akan sangat jelek, bingung dengan apa yang baru
saja ku dengar. Bagaimana mungkin wanita yang kemarin anggun dengan rambutnya
yang terurai indah, kini seluruh tubuhnya tertutup kain (hijab), kemarin ia begitu
dingin, kini menjadi wanita terhangat yang pernah ku temui setelah ibu. Akankah
fluktuasi secepat itu, hanya dalam hitungan jam, belum 24 jam sejak kemarin aku
bertemu ia ditengah rinai hujan. Dalam kebingungan, aku berkata “maaf, kalau
Iza boleh tau ada perlu apa ya teh? Adakah yang bisa Iza bantu untuk teteh?”.
Wanita itu pun mulai melanjutkan retorika nya. Membiusku dengan cerita tentang
dirinya.
“Saya
yang kemarin, dan saya hari ini adalah dua jiwa yang berbeda, Pita yang kemarin
Iza lihat telah mati, Pita yang kemarin adalah Puspita yang bodoh, hanya demi
seorang pria lantas mengorbankan segala kehidupannya. Sore itu saya menanti ia
di persimpangan jalan, cinta saya padanya masih begitu besar. Saya masih enggan
berpisah meski setiap hari ia hanya memukuli saya semaunya. Memarahi dan
membentak saya, dihadapan putri kecil kami Putri Zakia. Tentu Iza mengenalnya.
Ya, Putri Zakia yang Iza ajar di taman kanak – kanak ini. Kebetulan hari ini
tidak sekolah karena demam. Jujur saja, saya sempat defresi saat saya tahu
ternyata suami saya memiliki istri lain di desa tempat Iza tinggal. Awalnya
saya tidak percaya dan tak peduli dengan celoteh tetangga dan teman – teman
saya. Tapi pada akhirnya pil pahit itu harus saya telan juga. Suami saya
memiliki wanita lain diluar istana kami yang sudah genap 5 tahun 3 bulan lalu.
Ada pesan mesra yang saya temukan di telepon genggamnya, setiap kali bicara
ditelepon maka ia akan membentak saya, menyuruh saya diam. Dan yang paling
mengejutkan adalah lipstick di kerah kemejanya. Aroma parfum khas wanita, di
dasinya. Padahal aku tak pernah memakai lipstick terlebih parfum. Aku tak
pernah mengira ia akan setega itu padaku. Hingga kemarin saya datang ke desa ini,
berniat mencari suami saya yang tak kunjung pulang selama seminggu, tanpa kabar
berita. Saya menunggunya dipersimpangan jalan karena saya takut jika saya
datang ke rumah wanita simpanan suami saya, ia akan bertambah murka kepada
saya. Saya amat mengasihinya. Saya menantinya disana sampai gelap. Di tengah
samar gelap berteman rinai air mata setelah hujan, saya menemukan suami saya
tengah berjalan mesra, menggandeng seorang wanita. Saya memanggil suami
saya.”Mas Adi”. Dengan geram suami saya menyeret saya dijalanan. Memukuli saya,
mendorong saya ke arah got. Setelah itu suami saya pergi. Satu malam yang tak
mungkin saya lupa. Mengajarkan saya meski seberapa besar cinta kita pada
seseorang, maka sebesar itu pula lah pengorbanan yang harus kita berikan. Saya
mencintainya dan saya telah berkorban untuknya. Merelakan ia dengan pilihan
hidupnya bersama wanita itu. Cinta saya padanya adalah dulu, sampai malam tadi
tapi dia tidaklah lagi berhak untuk cinta saya nanti. Saya pergi dari rumah
yang selama ini menjadi tempat saya bernaung, saya pergi bersama Putri menuju
rumah yang dulu saya tempati sewaktu belum menikah didaerah Bogor barat.
subhanaallah,
BalasHapushidayah itu pasti datang.....
jika memang besunguh-sungguh
betul betul betul, :)
Hapus